Liputansumbawa.id–Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Suara Rakyat vs Strategi Partai: Siapa yang Menang?” sebagai bentuk ruang diskusi kritis terkait dinamika demokrasi, partisipasi politik masyarakat, serta pengaruh strategi partai politik dalam pemilu dan pilkada.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 7 Mei 2026 tersebut menghadirkan Muhammad Kaniti sebagai pemateri utama. Muhammad Kaniti merupakan mantan Anggota KPU Kabupaten Sumbawa periode 2019–2024 sekaligus Ketua PC Tidar Sumbawa yang aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan sosial di Kabupaten Sumbawa.
Muhammad Kaniti juga memiliki pengalaman organisasi di berbagai bidang, seperti BEM, PMII, Karang Taruna, Gerakan Pramuka, Gerakan Pemuda Ansor, hingga Tunas Indonesia Raya. Dengan pengalaman tersebut, pemateri memberikan pemaparan terkait dinamika partisipasi politik masyarakat dan kondisi demokrasi saat ini.
Kegiatan FGD ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap dinamika politik dan demokrasi, khususnya terkait partisipasi masyarakat dalam pemilu dan pengaruh strategi partai politik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi kritis bagi mahasiswa agar mampu melihat fenomena politik secara lebih objektif, serta membangun kesadaran politik yang lebih aktif dan cerdas sebagai generasi muda.
Dalam pemaparannya, Muhammad Kaniti menjelaskan bahwa suara rakyat tetap menjadi fondasi utama dalam demokrasi. Namun dalam praktiknya, strategi partai politik memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini dan pilihan masyarakat, terutama melalui kampanye politik, media sosial, dan pendekatan langsung kepada masyarakat.
“Demokrasi bukan hanya soal banyaknya suara, tetapi bagaimana masyarakat dapat menentukan pilihan secara sadar, kritis, dan bebas dari pengaruh yang merugikan kualitas demokrasi,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut juga dipaparkan data partisipasi pemilih di Kabupaten Sumbawa berdasarkan data dari KPU Kabupaten Sumbawa. Tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 mencapai 82,7% yang mencakup DPT dan DPTb. Sedangkan pada Pemilu 2024, tingkat partisipasi berada di angka 82,40% yang mencakup DPT, DPTb, dan DPK.
Sementara itu, tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada 2020 mencapai 82,4% dan berhasil melampaui target nasional meskipun dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Namun pada Pilkada 2024, tingkat partisipasi mengalami penurunan menjadi 72%.
Penurunan tersebut menjadi perhatian dalam diskusi karena menunjukkan adanya perubahan tingkat keterlibatan masyarakat dalam politik lokal. Selain itu, fenomena money politik juga turut dibahas sebagai salah satu tantangan dalam menciptakan demokrasi yang sehat dan berkualitas.
Dalam sesi diskusi, peserta terlihat antusias mengikuti jalannya kegiatan. Beberapa peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan tanggapan, khususnya terkait praktik money politik yang masih sering terjadi dalam proses pemilu maupun pilkada. Sedikitnya terdapat tiga peserta yang menyoroti pengaruh money politik terhadap kebebasan masyarakat dalam menentukan pilihan politik.
Peserta menilai bahwa praktik money politik dapat mempengaruhi kualitas demokrasi karena masyarakat berpotensi memilih bukan berdasarkan visi dan program kandidat, melainkan karena kepentingan sesaat. Pembahasan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta dalam kegiatan FGD.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memahami pentingnya partisipasi politik, meningkatkan kesadaran demokrasi, serta menjadi pemilih yang lebih kritis terhadap strategi politik dan praktik money politik dalam pemilu.
Kegiatan berlangsung dengan lancar, interaktif, dan mendapat antusias dari peserta yang hadir. (LS)



























































































