Single News

Ketua MUI Sumbawa: Keluarga dan Pendidikan Agama Jadi Benteng Utama Cegah Penyalahgunaan Narkoba

Liputansumbawa.id–Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumbawa, H. Faisal Salim, S.Ag., M.M.Inov., menegaskan bahwa pemberantasan narkoba harus dimulai dari penguatan keluarga, pendidikan agama, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Talk Show SEMMI NTB Bicara bertema “NTB Pasar Narkotika” yang digelar Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) NTB di Chicken Chili, Samota, Kamis (2/7/2026).

Dalam paparannya, Faisal menegaskan bahwa MUI telah menetapkan narkoba sebagai barang haram sehingga tidak ada lagi ruang untuk memperdebatkan status hukumnya. Yang lebih penting saat ini, menurutnya, adalah membangun langkah nyata untuk menekan penyalahgunaan narkotika.

“Bagi kami di MUI, narkoba itu sudah final hukumnya, yaitu haram. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana bersama-sama mencari solusi agar penyalahgunaan narkoba bisa ditekan,” ujarnya.

Faisal menilai tingginya permintaan dari para pengguna menjadi salah satu faktor yang membuat peredaran narkotika terus berlangsung. Karena itu, selain penindakan terhadap pengedar, penanganan terhadap penyalahguna melalui rehabilitasi dan pembinaan juga harus mendapat perhatian.

“Selama masih ada pengguna, pengedar akan terus hidup. Karena itu, penanganan terhadap pengguna melalui rehabilitasi dan pembinaan harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum,” katanya.

Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama dalam membentuk karakter dan moral generasi muda sehingga memiliki peran strategis dalam mencegah penyalahgunaan narkoba sejak dini.

“Kalau keluarga kuat dan pendidikan agama berjalan baik, insya Allah anak-anak kita tidak mudah terpengaruh narkoba. Pencegahan harus dimulai dari rumah, bukan ketika seseorang sudah menjadi pengguna,” tegasnya.

Selain penguatan keluarga, Faisal juga menekankan pentingnya sinergi seluruh lembaga dalam memerangi narkoba. Ia menilai upaya yang dilakukan masing-masing pihak selama ini masih belum terintegrasi secara optimal.

“Polisi tidak bisa bekerja sendiri, BNN tidak bisa bekerja sendiri, begitu juga pemerintah desa, tokoh agama, dan tokoh adat. Semua harus bersatu membangun sinergi agar pemberantasan narkoba lebih efektif,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, MUI Kabupaten Sumbawa bersama BNN selama ini aktif melakukan sosialisasi ke sejumlah sekolah sebagai langkah pencegahan. Dari kegiatan tersebut masih ditemukan pelajar yang terindikasi terpapar narkoba berdasarkan hasil pemeriksaan sampel secara acak.

“Kondisi ini menjadi alarm bagi kita semua. Karena itu pemerintah daerah perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap program rehabilitasi, edukasi, dan pencegahan penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Faisal juga menyampaikan kesiapan MUI bersama Baznas Kabupaten Sumbawa untuk mendukung pembinaan keagamaan bagi warga binaan pemasyarakatan, khususnya narapidana kasus narkotika, agar memiliki bekal spiritual saat kembali ke masyarakat.

Menutup pemaparannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menghentikan budaya saling menyalahkan dan mulai memperkuat kolaborasi dalam memerangi narkoba.

“Jangan saling menyalahkan. Mari bergandengan tangan, satukan langkah, dan berikan solusi terbaik. Perang melawan narkoba adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan komitmen yang sama, kita dapat menyelamatkan generasi muda dan mewujudkan Sumbawa yang bersih dari narkoba,” pungkasnya. (Dn)