Single News

MGMP PAIBP Sumbawa Gandeng STAI NW Samawa, Guru Didorong Adaptif Hadapi Perubahan Pendidikan

Liputansumbawa.id— Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (MGMP PAIBP) SMA Kabupaten Sumbawa mulai mendorong pola kolaborasi baru dengan perguruan tinggi. Salah satunya melalui kerja sama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) NW Samawa.

Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam kegiatan MGMP PAIBP SMA Kabupaten Sumbawa yang digelar di Kampus STAI NW Samawa, Sabtu (8/8/2026).

Forum ini tidak hanya menjadi ruang bagi para guru untuk berkumpul dan bertukar pengalaman. Sejumlah isu strategis pendidikan turut dibahas, termasuk perubahan kebijakan capaian pembelajaran serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam penyusunan perangkat pembelajaran.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Cabang Dinas Dikpora Wilayah IV Kabupaten Sumbawa, Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa Suryanto, S.Ag., jajaran STAI NW Samawa, pengawas PAI dari Dikpora dan Kementerian Agama, serta guru PAIBP SMA se-Kabupaten Sumbawa.

Sekretaris MGMP PAIBP SMA Kabupaten Sumbawa, Hendra Julianto, S.Pd.I., Gr., mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dalam kegiatan MGMP merupakan langkah baru dalam memperkuat hubungan antara dunia sekolah dan perguruan tinggi.

Ia mengapresiasi dukungan STAI NW Samawa dan berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan.

Menurutnya, ruang kerja sama antara guru dan perguruan tinggi masih sangat luas, mulai dari pengembangan keilmuan, peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional, penelitian, pengembangan bahan ajar hingga menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

Dari pihak STAI NW Samawa, Wakil Ketua II Feri Irawan, M.E., memaparkan perkembangan kampus yang berdiri sejak 2005 tersebut.

Saat ini STAI NW Samawa memiliki empat program studi, yakni S1 Pendidikan Agama Islam, S1 Ekonomi Syariah, S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam, serta S1 Hukum Keluarga Islam.

Ia berharap keberadaan dan perkembangan STAI NW Samawa dapat terus dikenalkan kepada para siswa SMA di Kabupaten Sumbawa sehingga menjadi salah satu alternatif pilihan pendidikan tinggi bagi generasi muda.

Sementara itu, Pengawas PAI Dikpora, Syatriya Kurniansyah, S.Pd.I., M.Pd., menilai keterlibatan perguruan tinggi dalam MGMP merupakan terobosan yang patut dikembangkan.

Ia menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 5684 Tahun 2025 tentang Hari Belajar Guru.

“Pelibatan kampus dalam kegiatan MGMP ini merupakan terobosan pertama yang dilakukan oleh komunitas belajar, dalam hal ini MGMP PAI SMA Kabupaten Sumbawa,” ujarnya.

Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa, Suryanto, S.Ag., menekankan pentingnya guru terus beradaptasi dengan perubahan.

Menurutnya, MGMP merupakan bagian dari pembinaan profesi guru dan menjadi salah satu unsur penting dalam pemenuhan ketentuan terkait pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG).

Namun, profesionalisme guru, kata dia, tidak cukup hanya ditandai dengan penerimaan tunjangan.

“Guru profesional bukan hanya guru yang menerima TPG, tetapi guru profesional adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, para guru mendapatkan materi terkait perubahan BSKAP Nomor 046 Tahun 2025 menjadi BSKAP Nomor 020 Tahun 2026. Guru juga dibekali pemahaman mengenai pemanfaatan AI dalam penyusunan perangkat pembelajaran.

Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong guru agar mampu merespons perkembangan teknologi sekaligus menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.

Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara MGMP PAIBP SMA Kabupaten Sumbawa dan STAI NW Samawa.

Kesepakatan tersebut menjadi pijakan untuk mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, peningkatan kompetensi guru, penelitian, serta kegiatan akademik lainnya.

Kolaborasi MGMP PAIBP SMA Kabupaten Sumbawa dan STAI NW Samawa diharapkan tidak berhenti pada agenda formal. Lebih jauh, kerja sama tersebut diharapkan menjadi ruang berkelanjutan untuk mempertemukan pengalaman guru dengan pengembangan keilmuan di perguruan tinggi.

Dengan demikian, guru tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu mengikuti perubahan kebijakan dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.