Liputansumbawa.id—Potensi bawang merah yang melimpah di Desa Brangkolong, Kecamatan Plampang, Kabupaten Sumbawa, mulai didorong untuk tidak hanya dijual dalam bentuk mentah.
Melalui program kerja utama Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Angkatan 28, Kelompok 19 KKL Universitas Samawa (UNSA) memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat untuk mengolah bawang merah lokal menjadi bawang goreng renyah yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Kegiatan tersebut digelar di kediaman Kepala Desa Brangkolong, Selasa (30/7/2026), dan diikuti ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Program ini berangkat dari kondisi petani bawang merah di Brangkolong yang selama ini masih mengandalkan penjualan hasil panen dalam bentuk mentah. Kondisi tersebut membuat pendapatan petani cukup rentan ketika harga bawang merah mengalami penurunan di pasaran.
Ketua Kelompok 19 KKL Angkatan 28, Rohul Jihad mengatakan, diversifikasi produk menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian lokal.
“Kami melihat potensi besar bawang merah di Desa Brangkolong yang belum dimaksimalkan secara optimal. Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan hasil panen mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah yang bernilai jual tinggi serta berdaya saing di pasar,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diberikan teori, tetapi langsung mempraktikkan tahapan pengolahan bawang goreng.
Mulai dari pemilahan kualitas bawang merah lokal, teknik pengirisan, penggunaan adonan agar menghasilkan tekstur renyah dan tahan lama, hingga teknik penggorengan dengan pengaturan suhu yang tepat.
Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengemasan produk agar terlihat lebih menarik, higienis, dan memiliki daya saing ketika dipasarkan.
Inovasi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha olahan berbasis komoditas lokal.
Pemerintah Desa Brangkolong menyambut baik program yang digagas mahasiswa KKL UNSA tersebut. Keterampilan yang diperoleh masyarakat diharapkan dapat berkembang menjadi unit usaha mandiri sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan warga.
Dengan pengolahan pascapanen, bawang merah Brangkolong tidak lagi hanya menjadi komoditas yang dijual mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk UMKM dengan nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas. (Cit)


























































































