Single News

Dari Sumbawa Selatan ke Afrika Selatan, Jejak Ismail Dea Malela dan Memori Besar Orang Sumbawa

Liputansumbawa.id–Jejak perjalanan Ismail Dea Malela dari Sumbawa Selatan hingga Afrika Selatan kembali dibuka di hadapan publik. Bukan sekadar mengenang seorang tokoh, seminar nasional di Wisma Cheng Ho, Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela, Sabtu (8/8/2026), mempertemukan sejumlah tokoh nasional, akademisi, budayawan dan pemerhati sejarah untuk menelusuri kembali perjalanan panjang orang Sumbawa yang menembus batas Nusantara.

Forum bertajuk “Ismail Dea Malela dari Sumbawa Selatan hingga Afrika Selatan” itu menghadirkan Pengasuh PMI Dea Malela Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, M.A., Menteri Kebudayaan RI Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman H. Fahri Hamzah, S.E., antropolog dan sejarawan Prof. Dr. Mukhlis Paeni, M.A., Direktur Museum Ismail Dea Malela di Simonstown Mogamat Sheribeen Amlay, penulis buku Dea Malela dari Sumbawa Selatan ke Afrika Selatan Nurdin Ranggabarani, serta sejumlah budayawan dan tokoh daerah.

Seminar yang dimoderatori Poetra Adi Soerjo dan menghadirkan Berlian Rayes, Aries Zulkarnain, serta Wahyudin Latif sebagai penanggap itu tidak hanya membicarakan sosok Ismail Dea Malela.

Lebih jauh, forum tersebut membuka kembali jejak diaspora masyarakat Sumbawa, jaringan penyebaran Islam, hubungan antarkerajaan Nusantara, hingga perjuangan melawan kolonialisme yang ternyata membawa cerita Sumbawa jauh hingga ke Afrika Selatan.

Dari sinilah cerita besar itu dimulai: bagaimana seorang tokoh dari Sumbawa Selatan dan jaringan masyarakat yang mengitarinya meninggalkan jejak sejarah yang melampaui batas pulau, bahkan benua.

Pengasuh PMI Dea Malela, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, M.A., dalam sambutannya mengingatkan bahwa keberadaan komunitas masyarakat Sumbawa di Afrika Selatan menunjukkan bahwa mobilitas orang Sumbawa sejak masa lalu telah melampaui batas geografis.

Din Syamsuddin bahkan mengaku pernah melihat langsung jejak masyarakat Sumbawa di Afrika Selatan.

Menurutnya, pengalaman sejarah semacam itu penting direkam kembali. Sebab, semakin kuat generasi muda mengenal sejarahnya, semakin besar pula peluang mereka membangun kepercayaan diri dan identitas sebagai orang Sumbawa.

“Semakin jauh kita memandang ke belakang, kita akan punya pandangan yang jauh ke depan,” ujar Din Syamsuddin.

Ia berharap Sumbawa tidak hanya dikenal karena potensi alamnya, tetapi juga karena kekuatan sejarah dan kebudayaannya.

Salah satu yang menurutnya perlu terus dirawat adalah peninggalan sejarah seperti Istana Dalam Loka, yang menjadi salah satu penanda kebesaran peradaban Sumbawa pada masa lalu.

Bagi Din, peninggalan tersebut tidak cukup hanya dijaga. Sejarah Sumbawa harus diperkenalkan lebih luas, bahkan hingga ke dunia internasional.

Pesan serupa disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc. melalui video.

Fadli menegaskan, pengungkapan sejarah tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Setiap narasi sejarah harus diteliti, diverifikasi dan didokumentasikan dengan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab, sejarah Indonesia selama ini masih kerap dibaca dari sudut pandang kekuasaan dan kebijakan. Padahal, di berbagai daerah tersimpan cerita besar mengenai jaringan perdagangan, persaudaraan, penyebaran Islam, perlawanan terhadap kolonialisme hingga terbentuknya komunitas Nusantara di luar negeri.

Dalam konteks itulah, kisah Ismail Dea Malela menjadi penting.

Bukan hanya sebagai cerita lokal Sumbawa, tetapi sebagai bagian dari potongan besar historiografi Indonesia.

Fadli bahkan menawarkan sejumlah langkah lanjutan, mulai dari penguatan riset dan verifikasi sejarah, digitalisasi sumber, perlindungan warisan budaya, pengembangan bahan pendidikan dan literasi budaya hingga penguatan diplomasi budaya Indonesia dengan Afrika Selatan.

Arsip Indonesia, Belanda dan Afrika Selatan, manuskrip lokal, tradisi lisan, catatan keluarga, silsilah, hingga kajian arkeologi dan antropologi dinilai penting untuk mempertemukan berbagai potongan cerita yang selama ini tersebar.

Dari sana, kisah Ismail Dea Malela juga dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. Buku, film dokumenter, pameran, modul pembelajaran hingga konten digital menjadi ruang yang dapat memperkenalkan sejarah tersebut kepada generasi muda.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah, S.E., melalui video, turut menyoroti perjalanan masyarakat Sumbawa hingga terbentuknya komunitas Sumbawa di Afrika Selatan.

Menurut Fahri, cerita tentang diaspora Sumbawa tidak dapat dilepaskan dari sejarah hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara, termasuk Sumbawa, Bima dan Gowa.

Ada hubungan kekerabatan, agama dan jaringan sosial yang kemudian ikut membentuk perjalanan masyarakat Nusantara.

Orang-orang Sumbawa ternyata tidak hidup dalam ruang yang terisolasi. Mereka bergerak, berinteraksi dan membangun jaringan hingga ke wilayah yang sangat jauh dari tanah asalnya.

Bagi Fahri, memori sejarah tersebut penting bagi generasi hari ini.

Pembangunan Sumbawa ke depan, katanya, tidak semestinya hanya bergantung pada modal dan kekuatan dari luar. Sumbawa memiliki sejarah, budaya, sumber daya dan potensi masyarakat yang dapat menjadi kekuatan sendiri.

Salah satu pemaparan yang menarik perhatian datang dari Nurdin Ranggabarani.

Ia membawa peserta seminar menelusuri hubungan Sumbawa dengan Gowa, perkembangan Islam dan jaringan perjuangan melawan kolonialisme.

Menurut Nurdin, hubungan Kesultanan Gowa dan Kesultanan Sumbawa pada masa lalu tidak hanya lahir dari kepentingan politik. Hubungan itu juga diperkuat oleh kekerabatan dan agama.

Dari jaringan tersebut kemudian berkembang pula jalur penyebaran Islam yang melibatkan sejumlah tokoh. Salah satunya Ismail Dea Malela.

Namun, bagi Nurdin, Ismail perlu dilihat lebih jauh dari sekadar tokoh dakwah.

Penelitian yang dilakukannya selama hampir empat tahun menemukan sejumlah indikasi mengenai keterkaitan perjalanan Ismail dengan jaringan perjuangan menghadapi kolonialisme.

Untuk menelusuri jejak tersebut, Nurdin tidak hanya mengandalkan sumber tertulis.

Ia melakukan wawancara dengan masyarakat dan tokoh di berbagai wilayah, termasuk Gowa, Sumbawa hingga Simonstown, Afrika Selatan.

Dokumen, berita, catatan dan kesaksian dikumpulkan untuk mencoba menyusun kembali potongan perjalanan Ismail Dea Malela.

Salah satu pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa sejumlah tokoh pejuang dari Nusantara justru diasingkan hingga ke Afrika Selatan.

Tokoh-tokoh yang memiliki mobilitas tinggi dan mampu membangun jaringan lintas daerah dan pulau, menurutnya, cenderung dianggap memiliki pengaruh yang berbahaya bagi pemerintahan kolonial.

“Pejuang-pejuang yang melakukan mobilitas tinggi dan sudah memprovokasi antar-daerah, antar-pulau, orang-orang model seperti ini yang dibuang ke Afrika,” ungkap Nurdin.

Meski demikian, Nurdin menegaskan berbagai temuan tersebut tetap membutuhkan penelitian lebih luas.

Sebab, sejarah bukan hanya tentang menemukan cerita, tetapi juga memastikan cerita tersebut memiliki pijakan sumber yang kuat.

Pada akhirnya, seminar nasional tersebut tidak hanya berbicara mengenai Ismail Dea Malela.

Nama Ismail menjadi pintu masuk untuk melihat kembali sejarah yang lebih besar: bagaimana orang Sumbawa bergerak, membangun jaringan, menyebarkan agama, menjalin hubungan antarkerajaan dan menghadapi perubahan zaman.

Jejak yang membentang dari Sumbawa Selatan hingga Afrika Selatan menunjukkan satu hal penting: sejarah orang Sumbawa ternyata jauh lebih luas daripada batas wilayah yang selama ini dikenal.

Karena itu, pekerjaan rumah berikutnya adalah menyusun kembali jejak tersebut.

Arsip harus dibuka. Manuskrip ditelusuri. Tradisi lisan dicatat. Catatan keluarga dikumpulkan. Situs sejarah dirawat. Dan setiap temuan harus diuji dengan metode ilmiah.

Moderator seminar, Poetra Adi Soerjo, menegaskan forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai diskusi sehari.

Gagasan dan temuan yang muncul harus dilanjutkan melalui riset, dokumentasi, verifikasi sumber serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pesantren, komunitas budaya dan masyarakat.

Sebab, ada bagian dari sejarah Sumbawa yang mungkin selama ini tercecer di berbagai tempat—di tanah kelahiran, dalam cerita keluarga, di arsip kolonial, bahkan di negeri yang jaraknya ribuan kilometer dari Pulau Sumbawa.

Dan Ismail Dea Malela menjadi salah satu nama yang membuka pintu menuju cerita itu.

Cerita tentang seorang tokoh, sekaligus cerita tentang perjalanan panjang orang Sumbawa membawa agama, budaya, identitas dan semangat perjuangan melampaui batas Nusantara.

Kini, tantangannya bukan lagi sekadar menemukan jejak tersebut.

Tetapi memastikan jejak itu tidak kembali hilang dari ingatan generasi berikutnya.
(Don/Liputansumbawa.id)