Liputansumbawa.id–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa bergerak cepat menangani dampak banjir Empang, Kabupaten Sumbawa, yang terjadi akibat hujan deras selama lebih dari empat jam, Sabtu (7/2/2026).
Banjir tersebut mengakibatkan ribuan warga terdampak serta merusak sejumlah infrastruktur vital.
Berdasarkan data sementara BPBD Sumbawa, sebanyak 1.215 kepala keluarga (KK) atau sekitar 3.620 jiwa terdampak banjir yang melanda enam desa di Kecamatan Empang, yakni Desa Lamenta, Empang Bawah, Empang Atas, Pamanto, Bunga Eja, serta Desa Jotang, khususnya Dusun Tero.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sumbawa, M. Nurhidayat, mengatakan penanganan langsung dilakukan sejak laporan awal diterima dari masyarakat.
“Prioritas utama kami adalah evakuasi warga saat banjir terjadi. Keselamatan masyarakat menjadi hal yang paling utama,” ujar Nurhidayat
saat mendampingi Bupati Sumbawa meninjau lokasi pascabanjir, Minggu (8/2/2026).
Selain evakuasi, BPBD Sumbawa bersama tim gabungan dari unsur TNI, Polri, dan relawan juga menyalurkan bantuan logistik darurat, berupa makanan siap saji, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya bagi warga terdampak banjir.
“Tim langsung kami kerahkan ke lokasi untuk melakukan drop logistik sekaligus membantu masyarakat membersihkan lingkungan pascabanjir,” jelasnya.
Usai air surut, BPBD Sumbawa melakukan pendataan kerusakan infrastruktur di seluruh desa terdampak. Tim teknis juga turun langsung ke aliran sungai untuk mengecek kondisi sungai, terutama di titik-titik luapan yang menyebabkan air masuk ke permukiman warga.
Dari hasil pendataan sementara, BPBD menerjunkan tiga tim lapangan dan menemukan sejumlah kerusakan prioritas, di antaranya jalan dan jembatan rusak, pengaman tebing sungai jebol, serta pendangkalan dan penyempitan badan sungai akibat sedimentasi.
“Perbaikan akan kita lakukan secepatnya. Insyaallah tahun 2026 ini akan kita tangani, karena jika terlambat dapat memperparah kerusakan infrastruktur lain ketika banjir kembali terjadi,” tegas Nurhidayat.
Kerusakan terparah tercatat di Desa Jotang, Dusun Tero, di mana jembatan penghubung dan badan jalan mengalami kerusakan cukup serius. Selain itu, satu sekolah dasar di wilayah tersebut juga sempat terendam banjir.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, sejumlah desa terdampak mengusulkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, seperti tanggul sungai, pengaman tebing, dan bronjong, guna meminimalisir risiko banjir saat intensitas hujan tinggi.
“BPBD Sumbawa berkomitmen mempercepat pemulihan pascabanjir agar aktivitas masyarakat kembali normal dan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang,” pungkasnya. (LS)







































































