Liputansumbawa.id–Suara serunai berpadu dengan hentakan rantok mengiringi kedatangan Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, di Desa Pungka, Kecamatan Unter Iwes, Jumat (14/8/2026).
Bukan sekadar penyambutan seremonial. Tradisi tersebut menjadi cara masyarakat Pungka menyambut orang nomor dua di Kabupaten Sumbawa itu saat menghadiri pembukaan Bonsai Exhibition di Lapangan Desa Pungka.
Suasana pun sontak meriah. Masyarakat dan para pecinta bonsai yang hadir menyambut kedatangan Wabup Ansori dengan antusias.
Di tengah suasana tersebut, sebuah kegiatan yang berangkat dari hobi mulai menunjukkan wajah lain: kreativitas, silaturahmi hingga peluang ekonomi masyarakat.
Bonsai Exhibition digelar Pemerintah Desa Pungka bersama Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Ranting Unter Iwes dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Wabup Ansori kemudian secara resmi membuka kegiatan tersebut melalui pemukulan gong dan pemotongan pita.
Dalam sambutannya, Ansori memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pameran yang melibatkan para penghobi bonsai dan masyarakat Sumbawa.
Menurutnya, bonsai bukan hanya persoalan tanaman dan keindahan bentuk. Di baliknya terdapat kreativitas, ketekunan serta potensi yang dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai.
Kegiatan seperti ini, kata dia, juga menjadi ruang bertemunya masyarakat dari berbagai kalangan. Para penghobi dapat saling berbagi pengalaman, sementara masyarakat memiliki kesempatan melihat langsung bagaimana sebuah hobi dapat dikembangkan menjadi potensi ekonomi.
Ansori berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda komunitas atau kegiatan tahunan semata.
Ia mendorong agar bonsai terus dikembangkan sehingga keberadaannya mampu memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat.
Diikuti 200 Peserta
Antusiasme terhadap Bonsai Exhibition Pungka terlihat dari jumlah peserta yang mencapai sekitar 200 orang.
Ketua Pelaksana Bonsai Exhibition, yang juga Ketua BPD Desa Pungka, Selamet Hidayat, mengatakan seluruh peserta berasal dari wilayah Sumbawa.
“Peserta lomba 200 peserta. Lomba ini tidak diselenggarakan secara nasional, hanya seputaran Sumbawa saja,” kata Slamet.
Meski berskala lokal, jumlah peserta tersebut menunjukkan bahwa bonsai memiliki basis penghobi yang cukup besar di Kabupaten Sumbawa.
Bagi Slamet, banyaknya peserta bukan sekadar angka. Hal itu menjadi gambaran bahwa bonsai masih memiliki ruang untuk terus tumbuh di tengah masyarakat.
Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan bonsai-bonsai terbaik, tetapi juga menjadi wadah bagi para penghobi untuk terus berkarya.
“Kegiatan ini kami harapkan bisa bermanfaat untuk masyarakat. Selain menjadi tempat berkumpulnya para pecinta bonsai, mudah-mudahan ke depan juga bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Harapan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari pelaksanaan Bonsai Exhibition Pungka.
Sebab, dari sebuah tanaman yang dirawat dengan kesabaran, dapat lahir karya bernilai. Dari sebuah komunitas penghobi, dapat tumbuh jaringan silaturahmi. Dan dari sebuah pameran, terbuka peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Bonsai, Hobi yang Berpeluang Jadi Ekonomi Kreatif
Bonsai memang membutuhkan waktu. Bentuknya tidak lahir dalam sehari. Ada proses memilih tanaman, merawat, membentuk, memangkas hingga menunggu pertumbuhan yang sesuai dengan karakter yang diinginkan.
Proses panjang itulah yang membuat bonsai memiliki nilai tersendiri bagi para penggemarnya.
Di Pungka, proses tersebut dipertemukan dalam sebuah ruang pamer dan perlombaan. Para penghobi membawa karya terbaik mereka, sementara masyarakat mendapat kesempatan melihat lebih dekat dunia bonsai yang selama ini berkembang di komunitas.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun menjadi semakin bermakna ketika perayaan tidak hanya diisi dengan kegiatan hiburan, tetapi juga menghadirkan kreativitas masyarakat.
Bonsai Exhibition Pungka akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cerita tentang bagaimana sebuah hobi dirawat menjadi karya, komunitas dipertemukan dalam silaturahmi, dan kreativitas perlahan diarahkan menjadi peluang ekonomi.
Dari Pungka, bonsai kembali menunjukkan bahwa sesuatu yang tumbuh perlahan pun dapat memiliki nilai besar ketika dirawat dengan ketekunan. (Don)


























































































