Single News

Sekolah Tak Bisa Sendiri, Pencegahan Narkoba Harus Dimulai dari Keluarga

Liputansumbawa.id–Penyalahgunaan narkotika menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi dunia pendidikan. Karena itu, upaya melindungi generasi muda dari bahaya narkoba tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah, tetapi memerlukan kolaborasi antara keluarga, pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa dari Bidang Pembinaan SMP, Junadi, saat menjadi narasumber dalam Talk Show SEMMI NTB Bicara bertema “NTB Pasar Narkotika” yang digelar Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) NTB bekerjasama dengan Liputan Sumbawa di Chicken Chili Samota, Kamis (2/7/2026).

Menurut Junadi, dampak penyalahgunaan narkoba tidak hanya menyentuh aspek hukum, tetapi juga mengancam kualitas pendidikan serta masa depan generasi muda.

“Narkoba menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Yang kita hadapi bukan hanya persoalan pelanggaran hukum, tetapi ancaman terhadap masa depan generasi muda. Karena itu, menyelamatkan anak-anak kita harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumbawa terus mendorong implementasi Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, bebas dari kekerasan, sekaligus membentuk karakter peserta didik melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Menurutnya, lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru karena banyak anak menghabiskan lebih banyak waktu dengan telepon genggam dibandingkan berinteraksi dengan keluarga.

“Lingkungan sangat menentukan karakter anak. Saat ini banyak anak lebih sering bersama handphone daripada orang tuanya. Akibatnya, pengawasan keluarga berkurang, sementara pengaruh media sosial semakin besar terhadap perkembangan karakter mereka,” jelasnya.

Junadi menilai kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dijawab bersama. Sekolah, kata dia, tidak akan mampu membentuk karakter peserta didik tanpa dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan.

Melalui Program BSAN, pemerintah berupaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental, keamanan, etika bermedia digital, serta pembentukan karakter peserta didik.

“Pencegahan harus dimulai sejak dini. Sekolah menjadi tempat membangun karakter, tetapi keluarga tetap menjadi benteng utama. Jika komunikasi antara orang tua dan anak berjalan baik serta lingkungan memberikan contoh positif, maka potensi anak terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba dapat diminimalkan,” katanya.

Di akhir pemaparannya, Junadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat sinergi dalam melindungi generasi muda dari ancaman narkotika.

“Kami berharap kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah daerah, BNN, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan media terus diperkuat. Menyelamatkan generasi muda adalah tanggung jawab kita bersama demi mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, berkarakter, dan bebas dari narkoba,” pungkasnya. (Dn).