Single News

Semamung, 378 Tahun Menjaga Nyala Sejarah dan Budaya Tau Samawa

Liputansumbawa.id–Malam di Desa Semamung, Kecamatan Moyo Hulu, Rabu (26/8/2026), terasa berbeda. Riuh warga, cahaya panggung, suara tradisi dan jejak panjang sejarah berpadu dalam satu perayaan yang sarat makna.

Atraksi ngumang membuka malam tasyakuran Hari Lahir (Harlah) Desa Semamung ke-378. Setelah itu, tari kolosal dan merantok menyambung kemeriahan panggung. Di tengah rangkaian acara, masyarakat diajak menengok kembali perjalanan kampung halaman mereka melalui pemutaran video profil desa dan jejak para kepala desa yang pernah memimpin Semamung.

Bukan sekadar pesta rakyat, malam itu seperti sebuah perjalanan pulang.

Warga Desa Semamung tumpah ruah. Masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Moyo Hulu pun ikut memenuhi lokasi kegiatan. Mereka datang untuk menyaksikan sebuah desa yang telah melewati perjalanan panjang selama hampir empat abad, namun masih berusaha menjaga denyut kebudayaan yang diwariskan para leluhur.

Malam tasyakuran ini sekaligus menjadi penutupan rangkaian kegiatan Sarembang Desa.

Di tengah kemeriahan itu hadir Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, didampingi Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Sumbawa, Zulfikar Demitry. Turut hadir Ketua Lembaga Adat Tana Samawa M. Iksan Safitri, Camat Moyo Hulu Deden Fitriadi bersama Forkopimca, Kepala Desa Semamung Rudi Mustaid, serta para kepala desa se-Kecamatan Moyo Hulu.

Cermin Besar Sebuah Perjalanan

Bagi Kepala Desa Semamung, Rudi Mustaid, Harlah ke-378 bukan sekadar perayaan usia.

Di balik angka yang terus bertambah, terdapat perjalanan panjang, perjuangan para pendahulu dan identitas masyarakat yang harus tetap dijaga.

“Harlah Desa Semamung adalah momentum cermin besar dari mana kita berasal,” ungkap Rudi.

Semamung, kata dia, bukan hanya wilayah administratif. Desa ini adalah ruang kehidupan yang dibentuk oleh alam, sejarah dan ikatan batin masyarakatnya.

“Desa Semamung bukan sekadar hamparan tanah, bukit, gunung dan aliran Buin Nunuk serta Ai Ampuk, tetapi sebuah ikatan batin yang dipatri oleh perjuangan para pendahulu kita,” katanya.

Usia 378 tahun menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Mengenang siapa para leluhur yang telah membangun kampung itu, memahami nilai-nilai yang diwariskan dan kemudian menentukan arah perjalanan desa ke depan.

Bagi Rudi, peringatan Harlah juga menjadi upaya menjaga memori kolektif generasi muda agar tidak kehilangan akar.

“Acara ini bukan hanya seremoni, tetapi upaya menjaga memori kolektif generasi penerus agar tidak melupakan dari mana mereka berasal dan nilai-nilai apa yang hidup dalam ruang batin orang tua mereka,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kebudayaan bisa hilang bukan hanya ketika bangunan atau benda-benda bersejarah musnah, tetapi ketika nilai dan falsafah hidup tidak lagi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, di tengah derasnya modernisasi, masyarakat Semamung memiliki tanggung jawab untuk memastikan akar budaya tidak tercerabut.

“Desa Semamung adalah warisan kemarin, tanggung jawab hari ini, dan harapan untuk esok hari,” tegasnya.

Usia Hanya Angka, Sejarah Adalah Bukti

Camat Moyo Hulu, Deden Fitriadi, melihat Harlah Desa Semamung sebagai energi baru bagi masyarakat.

Menurutnya, usia sebuah desa bukan sekadar angka dalam catatan sejarah. Usia panjang menjadi bukti bahwa masyarakatnya mampu bertahan, menjaga kebersamaan dan mempertahankan semangat gotong royong dari generasi ke generasi.

“Semoga momentum ini menjadi penyemangat desa. Usia bukan sekadar angka, tetapi bukti panjangnya sejarah, semangat dan gotong royong masyarakat,” katanya.

Deden juga menyampaikan rencana untuk mengintegrasikan potensi desa-desa di Kecamatan Moyo Hulu dalam sebuah agenda budaya bertajuk Festival Suar Teja Raboran yang direncanakan diluncurkan bulan depan.

Ke depan, festival tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara bergilir di seluruh desa sebagai ruang untuk menampilkan identitas, kebudayaan dan potensi masyarakat.

Ia pun memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Semamung dan seluruh masyarakat yang telah menjadikan peringatan Harlah ke-378 berlangsung meriah dan penuh makna.

“Semamung Keren”

Malam semakin hidup ketika Wakil Bupati Sumbawa, Mohamad Ansori, menyampaikan sambutannya.

Ia mengaku bangga melihat kemeriahan sekaligus kekuatan budaya yang ditampilkan masyarakat Semamung. Bahkan dengan gaya khasnya yang santai, Ansori menyebut malam itu sebagai sebuah perayaan yang luar biasa.

“Malam ini keren banget, luar biasa. Kami bangga dan bahagia. Semamung keren,” ujarnya disambut antusias warga.

Ansori juga melontarkan pujian kepada Kepala Desa Semamung dan Camat Moyo Hulu yang dinilainya memiliki talenta serta keberanian untuk menghadirkan kegiatan yang berbeda.

“Kadesnya punya talenta dan berani, kades kelas camat. Camatnya multitalenta,” katanya.

Namun di balik candaan dan kemeriahan itu, Ansori mengajak masyarakat merenungkan perjalanan panjang Semamung.

Ia membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat ratusan tahun lalu, ketika para pendahulu mulai membangun peradaban di wilayah tersebut. Dari perjalanan sejarah itulah, menurutnya, masyarakat hari ini dapat memahami betapa kuatnya karakter Tau Samawa yang terbuka dan mampu menerima berbagai pihak.

“Bayangkan ratusan tahun yang lalu. Malam ini saya betul-betul tau Samawa,” ujarnya.

Ansori menilai peringatan Harlah Desa Semamung merupakan langkah baik yang harus terus dijaga. Ia berharap perayaan serupa dapat menjadi agenda tahunan dan menginspirasi desa-desa lain untuk menggali serta merayakan sejarahnya masing-masing.

Desa-desa lain, katanya, juga memiliki perjalanan dan identitas yang layak diangkat sebagai bagian dari kekayaan peradaban Sumbawa.

Menjaga Desa, Merawat Peradaban

Bagi Wakil Bupati, pembangunan tidak cukup hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi.

Desa juga harus memiliki kepribadian.

Kepribadian itu lahir dari budaya, sejarah, adat dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

“Mari kita jaga desa, lestarikan budaya dan peradaban, karena tidak ada habisnya. Kalau dipertahankan, itu bukti bahwa kita punya kepribadian,” tegas Ansori.

Pesan itu kemudian meluas pada pentingnya menjaga lingkungan. Desa yang maju, menurutnya, harus tetap menjaga keseimbangan alam.

Kebersihan, penghijauan, ketersediaan air hingga keberlanjutan pertanian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masa depan masyarakat desa.

“Jangan sampai kekeringan, kekurangan air dan gagal panen karena akan mengganggu kehidupan masyarakat,” pesannya.

Ia mengajak masyarakat untuk terus memelihara semangat gotong royong serta persatuan sebagai kekuatan utama dalam membangun desa.

Sebab pada akhirnya, sebuah desa tidak hanya dibangun oleh pemerintah. Desa tumbuh karena masyarakatnya memiliki rasa memiliki terhadap tanah tempat mereka berpijak.

Malam itu, di usia 378 tahun, Semamung tidak hanya sedang merayakan kelahirannya.

Di atas panggung, budaya kembali ditampilkan. Dalam layar, jejak para pemimpin terdahulu kembali dihidupkan. Di tengah kerumunan warga, sejarah kembali diceritakan.

Dan di antara semua kemeriahan itu, ada pesan yang terus bergema:

Bahwa sebuah desa boleh terus berubah mengikuti zaman, tetapi ia tidak boleh kehilangan ingatan tentang dari mana ia berasal.

Semamung telah berjalan selama 378 tahun. Kini, perjalanan itu diteruskan oleh generasi hari ini—dengan harapan Semamung menjadi desa yang semakin tangguh, maju, sejahtera, namun tetap menjaga nyala kebudayaan dan kearifan lokal Tau Samawa.

Malam Tasyakuran Harlah Desa Semamung ditutup dengan performa Simponi Band, yang membawakan tembang (lagu Sumbawa) Samawa Intan Alam, Naki dan Babala diselingi lagu Sumbawa lainnya. (MK)