Oleh: Dr. Syahrul Salam
Dosen UPN Veteran Jakarta
Penangkapan Maduro oleh AS dalam operasi khusus minggu ini di ibu kota Caracas, mengagetkan dunia internasional. Ada negara berdaulat “dipermalukan” dgn penangkapa presiden, simbul negara.
Banyak pertanyaan tentu saja, apa yg terjadi, bagaimana bisa terjadi, apa dampak dalam konteslasi politik internasional dan bagaimana Indonesia menyikapi?
Ada kemiripan takeover yg terjadi di Panama, Irak dan trahir Venezuela, aneksasi negara berdaulat. Endingnya sama, dunia “memaklumi”. Tak ada yg bisa menyentuh Amerika, apalagi menghukum dalam skema hukum internasional.
Respon Rusia, Inggris dan Prancis
Rusia menyesali tindakan Amerika. Hanya saja secara perlahan negara ini sedikit memgurangi tensi dengan Venezuela.
Inggris dan Prancis memaklumi, dan memandang Venezuela bagian dari “bad boy” yg harus diberikan pelajaran khusus. Dua negara ini boleh saja ingin menghukum Venezuela, hanya saja memiliki keterbatasan dalam operasi khusus berhadapan dgm Vemezuela.
Bagaimana dgn China?
Pasca penangkapan Maduro, 11 Politbiro PKC pasti tegang. Beijing terlalu akrab bahkan full support dgm Caracas, terlebih setelah Rusia sedikit manjauh.
Apakah Beijing memiliki kebranian untuk menganeksasi Taiwan, dgn skema aneksasi Venezuella?
Menarik ini dipertanyakan, untuk melihat lebih jauh kekuatan paksa antara Beijing dan Washington.
Bagaimana dgn Indonesia?
Kemenlu tiarap dlu. “Menjual” presiden Prabowo dlm one man show akan dianggap miniatur Maduro, membahayakan republik.
Yang kedua, hubungan Jakarta Beijing jangan terlalu dominan hingga melupakan Jakarta Washington. Aneksasi Venezuela, hanyalah cermin, bisa sajja dalam waktu berbeda Jkt juga bisa dianeksasi, alasan bisa dicari.
Hubungan internasional sekali lagi, hanya bisa menterjemahkan bahwa arena internasional cenderung hanya boleh didefinisi oleh pemilik power.







































































