Liputansumbawa.id–Kawasan Car Free Day (CFD) Samota yang selama ini menjadi ikon wisata dan pusat aktivitas ekonomi kreatif di Kabupaten Sumbawa menyimpan persoalan lingkungan yang serius.
Berdasarkan hasil penelitian Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan (PUSKAP) Sumbawa, pengelolaan sampah di kawasan tersebut masih sangat konvensional dan belum menyentuh akar permasalahan.
Penelitian yang dipaparkan di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Riset Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, Selasa (10/6/2026), mengungkap bahwa sekitar 70 persen sampah yang dihasilkan dari aktivitas CFD berupa plastik sekali pakai—botol minuman, gelas plastik, kantong kresek, dan kemasan makanan. Sayangnya, pola pengelolaan yang diterapkan selama ini masih sebatas “kumpul-angkut-buang” tanpa pemilahan, daur ulang, atau pemanfaatan ekonomi.
“Masyarakat masih melihat sampah sebagai limbah, bukan sebagai sumber daya yang bisa menghasilkan nilai ekonomi. Padahal potensi kreativitas lokal sangat besar jika dikelola dengan pendekatan yang tepat,” ujar Dr. Sri Rahayu, MM, peneliti utama dari PUSKAP Sumbawa.
Penelitian yang berlangsung dari Maret hingga Juni 2026 ini juga menemukan bahwa hingga saat ini belum ada bank sampah aktif, pelatihan pengolahan limbah, atau komunitas kreatif yang mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai di kawasan Samota. Sekitar 87 persen informan mengaku belum pernah mendapatkan edukasi atau pelatihan pengelolaan sampah berbasis ekonomi kreatif.
Sri Rahayu mengungkapkan bahwa eendahnya kesadaran lingkungan, keterbatasan tempat sampah terpilah, dan belum adanya regulasi pengurangan plastik sekali pakai menjadi tiga faktor utama penghambat.
Selain itu, koordinasi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dinilai masih berjalan parsial.
“Dinas Lingkungan Hidup fokus pada pengangkutan sampah, sementara Dinas Koperasi dan UMKM belum mengintegrasikan aspek lingkungan dalam pembinaan usaha,” tutur Doktor Ayu.
Menanggapi hal tersebut, mewakili Aryan Perdana Putra, S.Si, Kepala Bidang Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa, menegaskan komitmennya untuk mendorong penguatan edukasi lingkungan dan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah yang lebih memadai di kawasan wisata.
“Kami siap bersinergi dengan OPD lain dan masyarakat untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu dan berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut Doktor Ayu mengungkapkan ada beberapa rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti dari hasil penelitian, diantaranya integrasi pengelolaan sampah berbasis kreativitas lokal melalui tiga pendekatan utama: (1) edukasi lingkungan dan pelatihan pengolahan limbah bagi masyarakat dan UMKM, (2) pengembangan bank sampah dan program daur ulang, serta (3) tata kelola kolaboratif lintas stakeholder.
Dr. Sri Rahayu menambahkan bahwa kawasan Samota sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat—budaya gotong royong, antusiasme masyarakat terhadap pelatihan, dan keberadaan UMKM yang dinamis.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah fasilitasi dan kebijakan yang berpihak pada lingkungan,” tuturnya.
Kegiatan ekspose yang juga dihadiri oleh Sekretaris Bapperida, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Koperasi dan UMKM. Pertemuan ini ditutup dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti rekomendasi penelitian dalam program pembangunan daerah. (LS)



























































































