Liputansumbawa.id–Pembangunan daerah tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga harus memperhatikan kelestarian lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi mendatang.
Hal tersebut disampaikan Kabid Perekonomian dan SDA Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, Andi Kusmayadi
saat menjadi narasumber dalam Dialog Publik bertajuk “Meneropong Kondisi Hutan Sumbawa” yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sumbawa melalui LAKPESDAM bekerja sama dengan Duta Eco-Sufism di SMA Negeri 4 Sumbawa, Sabtu (4/7/2026).
Dalam pemaparannya, Andi menegaskan bahwa konsep pembangunan berkelanjutan harus menjadi landasan dalam setiap kebijakan pembangunan daerah. Menurutnya, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat merupakan prinsip yang tidak dapat dipisahkan.
“Pembangunan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana kita menjaga daya dukung lingkungan agar tetap mampu menopang kehidupan masyarakat dalam jangka panjang,” jelasnya.
Ia menjelaskan, berbagai program pembangunan perlu disusun dengan mempertimbangkan kemampuan lingkungan dalam mendukung aktivitas masyarakat. Apabila daya dukung lingkungan terus menurun akibat eksploitasi yang berlebihan, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui berkurangnya sumber daya alam, meningkatnya risiko bencana, hingga menurunnya produktivitas sektor pertanian.
Menurut Andi, Kabupaten Sumbawa memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Namun, potensi tersebut harus dikelola secara bijaksana agar tetap memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak fungsi ekologis kawasan hutan dan lingkungan.
Ia juga menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, komunitas lingkungan, hingga generasi muda menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga keseimbangan alam sehingga kualitas hidup masyarakat tetap terjaga,” ungkapnya.
Dialog publik tersebut menjadi ruang diskusi bagi berbagai pihak untuk membahas kondisi hutan di Kabupaten Sumbawa serta tantangan pengelolaannya. Sejumlah isu yang mengemuka antara lain degradasi hutan, berkurangnya sumber mata air, ancaman perubahan iklim, hingga perlunya penguatan kebijakan konservasi.
Kegiatan yang dihadiri unsur pemerintah daerah, akademisi, pegiat lingkungan, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat itu berlangsung interaktif. Peserta menyampaikan berbagai pertanyaan dan masukan mengenai strategi menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan aksi simbolis penanaman pohon sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung pelestarian lingkungan. Melalui forum tersebut, diharapkan lahir berbagai rekomendasi yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang selaras dengan upaya menjaga kelestarian hutan di Kabupaten Sumbawa.(Dn)



























































































