Single News

Tragedi Tambang Lantung, Wabup Sumbawa Evaluasi Total Aktivitas Tambang Rakyat

Liputansumbawa.id—Tragedi longsor tambang emas rakyat di kawasan Lawang Tua, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) malam sekitar pukul 21.30 Wita itu mengakibatkan tiga penambang meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.

Longsor terjadi ketika para penambang tengah melakukan aktivitas di lokasi tambang. Material tanah dan batu dari dinding galian yang cukup tinggi tiba-tiba runtuh dan menimpa para pekerja yang berada di bawah.

Proses evakuasi berlangsung hingga Minggu dini hari. Tim gabungan bersama masyarakat dan petugas terkait berupaya mengevakuasi seluruh korban dari lokasi kejadian.

Tiga korban meninggal dunia masing-masing Syaifullah, Imansyah, dan Syarafuddin. Sementara sejumlah korban lainnya harus mendapatkan perawatan medis akibat mengalami luka-luka, termasuk patah tulang.

Salah seorang korban selamat, Farel, 17 tahun, juga sempat tertimbun material tanah. Ia mengalami luka pada bagian pelipis serta cedera pada kaki.

Peristiwa tersebut kini dalam penanganan aparat kepolisian. Garis polisi telah dipasang di sekitar lokasi dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti longsor.

Menyikapi tragedi tersebut, Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, langsung turun mendampingi keluarga korban.

Ansori juga menggelar rapat bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk membahas penanganan pascakejadian sekaligus langkah evaluasi terhadap aktivitas tambang rakyat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sumbawa, kami menyampaikan belasungkawa dan duka yang mendalam kepada keluarga korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” ujar Ansori.

Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pihak. Keselamatan para penambang dan masyarakat sekitar tidak boleh diabaikan dalam aktivitas pertambangan.

“Pemerintah daerah akan melakukan evaluasi dan langkah-langkah pencegahan agar peristiwa seperti ini tidak kembali terjadi. Keselamatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Ansori menegaskan, pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas tambang rakyat, khususnya kawasan Lawang Tua yang memiliki kondisi geografis dengan tebing dan galian yang rawan longsor.

Evaluasi akan dilakukan dengan melibatkan instansi dan pihak terkait untuk melihat aspek keselamatan, kondisi lokasi, hingga langkah pencegahan yang harus dilakukan ke depan.

Pemkab Sumbawa juga akan berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan penanganan korban dan keluarga berjalan dengan baik.

Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya longsor. Penyelidikan diperlukan untuk memastikan apakah peristiwa tersebut disebabkan faktor alam, kondisi tanah, atau terdapat faktor lain yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan.

Ansori sebelumnya juga telah menyoroti persoalan aktivitas pertambangan di Sumbawa. Menurutnya, keberadaan tambang harus memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah, bukan justru menimbulkan persoalan baru.

“Tak ada gunanya tambang beroperasi jika di sekitarnya masih ada warga yang terbelakang secara ekonomi, daerahnya tertinggal, dan akses jalannya rusak parah,” tegasnya dalam kesempatan sebelumnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak boleh tinggal diam dalam menyikapi aktivitas pertambangan, baik yang dilakukan perusahaan besar maupun tambang rakyat.

Tragedi di Lawang Tua menjadi peringatan serius bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap aktivitas pertambangan.

Pemerintah daerah kini dituntut tidak hanya melakukan evaluasi setelah terjadi musibah, tetapi juga memastikan langkah pencegahan dan pengawasan benar-benar berjalan di lapangan. (MK)