Single News

Esti Wijayati Tantang Pemuda Sumbawa Jawab Pengangguran Sarjana dan Krisis Guru

Liputansumbawa.id—Anggota DPR RI Maria Yohana Esti Wijayati menantang pemuda Sumbawa tidak berhenti memperingati Sumpah Pemuda sebagai sejarah. Menurutnya, semangat persatuan harus diterjemahkan menjadi keberanian menjawab persoalan pendidikan, pengangguran, dan kesejahteraan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Esti dalam Dialog Muda bertajuk Merah Muda Fest: Suara Muda dari Sumbawa di Rumah Makan GOA, Labuhan Badas, Sumbawa, menjelang peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda, Minggu (27/9/2026) malam.

Dialog tersebut mempertemukan pemuda, tokoh masyarakat, serta sejumlah organisasi kepemudaan untuk membahas tantangan generasi muda dan kontribusi yang bisa diberikan untuk bangsa.

Esti mengatakan, Sumpah Pemuda lahir dari keberagaman yang disatukan oleh satu tekad. Kondisi itu, menurutnya, tetap relevan ketika generasi muda saat ini menghadapi perbedaan pilihan politik, agama, suku, hingga latar belakang pendidikan.

“Dulu para pemuda berkumpul di tiga tempat berbeda, menyatukan tekad: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Kini kita berbeda pilihan politik, agama, suku, dan tempat kuliah. Tapi ada satu hal yang sama: kita bagian dari Indonesia Raya,” kata Esti.

Ia kemudian mengaitkan semangat tersebut dengan tujuan bernegara sebagaimana tertuang dalam UUD 1945, yakni melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Esti mempertanyakan apakah tujuan tersebut sudah dirasakan seluruh masyarakat.

“Apakah Indonesia sudah sejahtera? Apakah semua anak bisa bersekolah dengan layak? Mengapa jutaan sarjana menganggur, sementara ribuan guru dibutuhkan di daerah terluar? Inilah pertanyaan yang harus dijawab pemuda Sumbawa,” ujarnya.

Menurut Esti, persoalan pengangguran sarjana dan kekurangan tenaga pendidik menunjukkan adanya kesenjangan yang perlu dijawab dengan keberanian untuk mengabdi.

Ia mendorong pemuda tidak hanya mengejar peluang di kota-kota besar, tetapi juga melihat daerah sebagai ruang untuk berkarya dan memberikan kontribusi.

“Pemuda jangan hanya mencari kenyamanan. Ada daerah yang membutuhkan tenaga, gagasan, dan pengabdian,” katanya.

Dalam dialog tersebut, muncul pula gagasan menjadikan Merah Muda Fest sebagai ruang diskusi pemuda yang digelar secara rutin setiap tiga bulan di Sumbawa.

Forum itu diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan gagasan dan langkah konkret menyangkut pendidikan, lapangan kerja, serta kesejahteraan masyarakat.

Pertemuan tersebut dihadiri mantan pimpinan DPRD Sumbawa Abdul Rafiq bersama jajaran DPC, Karina yang menawarkan beasiswa penuh bagi anak yatim yang hidup mandiri dan masih bersekolah di tingkat SMP, Anggota DPRD Kabupaten Seluma Bengkulu Febri Nanda, serta Angelina dari Taruna Merah Putih yang merintis perpustakaan “Jadi Lebih Baik” di Yogyakarta.

Sejumlah organisasi kepemudaan juga hadir, di antaranya BMI, TMP, GMNI, PMII dan IMM.

Bagi Esti, momentum menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda harus menjadi ruang untuk mengembalikan pertanyaan mendasar kepada generasi muda: bukan hanya apa yang akan didapat dari Indonesia, tetapi apa yang bisa diberikan untuk Indonesia.

“Apa yang bisa kupersembahkan untuk Indonesia Raya?” menjadi pertanyaan yang ia tinggalkan kepada para pemuda Sumbawa. (LS)