Single News

Wabup Sumbawa Dorong Maulid Jadi Kekuatan Adat dan Budaya Samawa

Liputansumbawa.id—Wakil Bupati Sumbawa, Drs. Mohamad Ansori, menegaskan pentingnya menjaga tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari adat dan budaya masyarakat Samawa.

Pesan itu disampaikan saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid As-Syafa’at, Kecamatan Moyo Hulu, Senin (28/9/2026).

Menurut Wakil Bupati, tradisi Maulid di Sumbawa memiliki kekhasan yang tidak hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun.

“Di Sumbawa peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW ini diperingati sampai dua bulan, bahkan ada tiga bulan. Bulan Mulud, Baqdo Mulud, Jumadil Awal. Ini masih Maulid. Inilah Sumbawa,” ujarnya.

Ia menyebut tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Samawa sejak masa Kesultanan Samawa. Karena itu, generasi saat ini dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskannya.

Ansori juga melihat peluang untuk mengembangkan tradisi Maulid, termasuk kegiatan Mulit Rame, agar dapat dikenal lebih luas.

Jika dikemas secara baik dan terorganisasi, rangkaian kegiatan tersebut dinilai berpotensi menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian masyarakat luar daerah hingga wisatawan.

“Ini sangat bagus sekali untuk bagaimana kita melestarikan adat dan budaya di Tanah Samawa yang kita cintai ini,” katanya.

Menurutnya, kekhasan tradisi Maulid Sumbawa merupakan bagian dari kekayaan budaya yang dapat dikembangkan tanpa menghilangkan nilai-nilai keagamaannya.

Tak hanya soal agama dan budaya, Wakil Bupati menilai rangkaian Maulid juga memberi dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Kegiatan yang melibatkan banyak warga membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk menjajakan berbagai produk dan kebutuhan masyarakat.

“Dengan Maulid ini sudah menggeliatkan daripada UMKM,” ujarnya.

Ia berharap tradisi tersebut tetap dipertahankan sekaligus dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Di hadapan masyarakat Moyo Hulu, Wakil Bupati juga mengingatkan agar pelestarian adat Samawa tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai agama.

Ia menegaskan prinsip yang selama ini menjadi pedoman masyarakat Samawa.

“Adat berenti ko syara’, syara’ berenti ko Kitabullah,” tegasnya.

Menurutnya, adat tidak boleh bertentangan dengan syariat. Nilai-nilai agama harus tetap menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati juga mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum memperkuat iman, ketakwaan dan silaturahmi.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

“Dengan silaturahmi ini, dengan kehadiran ini, kita terus meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT, ketakwaan kepada Allah SWT, dan mudah-mudahan kita semuanya selalu dalam lindungan Allah SWT,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi para tokoh agama, tokoh masyarakat, imam, guru ngaji, ustaz dan ustazah, pemerintah kecamatan dan desa, serta masyarakat yang terus menjaga tradisi Maulid.

Kekompakan tersebut, kata dia, penting untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah.

“Birokrasi ini harus betul-betul siap untuk memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” tegasnya.

Mohamad Ansori mengapresiasi peran kaum ibu yang ikut mempersiapkan rangkaian Maulid. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan dalam mempertahankan tradisi dan kekhasan Maulid di Tanah Samawa.

Peringatan Maulid Nabi di Moyo Hulu pun tidak hanya menjadi ruang memperkuat nilai keagamaan, tetapi juga menjadi momentum menjaga identitas budaya Samawa, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan mempererat hubungan antara pemerintah dengan warga. (MK/Ek)