Single News

Gempa M5,9 Guncang Sumba Barat Daya, Getaran Terasa hingga Kota Bima

Liputansumbawa.id — Gempa bumi bermagnitudo 5,9 mengguncang wilayah pantai barat daya Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (4/10/2026) pagi. Guncangannya turut dirasakan hingga Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan gempa terjadi sekitar pukul 06.55 Wita. Berdasarkan hasil pemutakhiran analisis BMKG, gempa memiliki magnitudo M5,9 dengan kedalaman 30 kilometer.

“Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,9 dan kedalaman 30 kilometer,” ujar Arief dalam keterangannya, Minggu.

Episenter gempa berada pada koordinat 9,84 derajat lintang selatan dan 118,90 derajat bujur timur. Lokasinya berada di laut, sekitar 29 kilometer barat daya Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami berdasarkan hasil pemodelan.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” kata Arief.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.

Dirasakan hingga Kota Bima

Guncangan gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat di sejumlah wilayah Sumba Barat Daya. Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG, intensitas mencapai VI Modified Mercalli Intensity (MMI) di Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, dan Kodi.

Pada skala VI MMI, getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan orang terkejut dan berlari keluar rumah.

Sementara itu, intensitas IV MMI dirasakan di Tambolaka, Waikabubak, dan Waibakul.

Guncangan juga dirasakan hingga wilayah NTB. Kota Bima tercatat mengalami guncangan dengan intensitas III MMI.

Pada skala III MMI, getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seperti ada truk yang sedang melintas.

BMKG Catat Gempa Susulan

Arief mengatakan, hingga pemantauan dilakukan BMKG, tercatat satu aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock.

“BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat,” katanya.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi maupun isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan gempa.

“Pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa atau tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah,” demikian imbauan BMKG.

C/Kompas.com