Liputansumbawa.id–Para pemuda Sumbawa yang tergabung di dalam Forum Kamanang Tana Samawa tergerak dan peduli terhadap identitas budaya Sumbawa khususnya dalam hal hari lahir Primordial Tana Samawa, menginisiasi rekontruksi hari lahir tana samawa. Keberadaan Forum ini telah berjalan kurang lebih 3 bulan. Meski terbilang baru, namun berbagai usaha untuk menyatukan persepsi dan mendiskusikan sejarah lahirnya Tana Samawa.
Lahirnya forum ini tidak terlepas dari keresahan yang sama terhadap mulai terkikisnya identitas budaya Tana Samawa. Pertemuan pertama dilakukan di Istana Dalam Loka, Sumbawa Besar pada 16 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut dihadiri para tokoh budaya dan pemuda Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Di dalam diskusi tersebut, mengemuka usulan pemahaman baru hari lahir tanah samawa, yang secara administratif 22 januari 1959 usia (67 tahun) dinilai terlalu muda dibanding Bima (381 tahun) atau dompu (211 tahun).
Budayawan Sumbawa, Aris Zulkarnain, yang hadir di forum menekankan perlukan referensi realistis untuk jati diri samawa, bukan karangan semata.
Tri Satriawan dari tim ahli cagar budaya mengusulkan kajian sejak 1648 Kesultanan Sumbawa, memafaatkan dana riset nasional untuk hasilkan buku atau jurnal.
Sementara itu, tokoh masyarakat Sumbawa Barat, Mustakim Patawari mendukung akomodasi hari lahir administrasi sambil rayakan versi tua sekitar 400 tahun secara adat tanpa beban APBD.
Demikian halnya dengan Yadi Suryo Diputra yang menyoroti momen krusial seperti 1623 saat islam resmi kerajaan di bawah Dewa Majaparua, atau 1648 penobatan Mas Cini, bukan likuidasi pulau Sumbawa 1959.
Tidak sekedar diskusi di Istana Dalam Loka, Forum Kamanang Tana Samawa pun meminta izin dan masukan dari Dewa Masmawa Sultan Sumbawa, Sultan Muhammad Kaharuddin IV. Sultan mengapresiasi inisiasi Forum Kamanang Tana Samawa. Sultan memberikan dunungan moral terhadap niat baik Forum dengan catatan jangan menghilangkan hari lahir Kabupaten yang sudah ada dan tetap mendukung penuh adanya hari lahir Primordial Tana Samawa.
Selanjutnya Forum menemui Ketua Majelis Pariwa Adat Kesultanan Sumbawa, Muhammad Yakub bin Abdul Majid Daeng Matutu. Ketua Majelis Pariwa Adat menyambut baik inisiasi Forum tersebut dan menyatakan dukungannya.
Forum juga menemui Ketua Lembaga Adat Tana Samawa, DR. Muhammad Iksan Safitri. Ketua LATS mengapresiasi, mendukung dan mendorong agar dalam pelaksanaannya melibatkan berkolaborasi dengan seluruh pihak terkait dan masyarakat Sumbawa pada umumnya.
Kemudian, Forum menemui salah satu pengurus LATS, Aminuddin Malewa yang juga Kepala Bagian Pemerintahan Setda Kabupaten Sumbawa. Yang mana, Forum mendapatkan dukungan serta meminta Forum melaksanakan sesegera mungkin.
Selanjutnya, Forum menemui Sekda Sumbawa, Dr. Budi Prasetyo. Sekda memberikan arahan agar melanjutkan inisiasi tersebut.
Tidak sampai di situ, Forum menyampaikan ide tersebut ke Wakil Ketua III DPRD Sumbawa, Zulfikar Demitry, SH. MH., yang mana Waka III DPRD Sumbawa mengapresiasi, mendukung penuh dan berkomitmen akan memfasilitasi forum dengan Kementerian Kebudayaan melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa.
Forum juga mendiskusikan inisiasi rekonstruksi hari lahir Tana Samawa ke peneliti BRIN. Inisiasi ini dirasa sangat strategis di tengah fenomena terkisisnya identitas ke Sumbawa-an masyarakat Sumbawa. Peneliti BRIN menegaskan bahwa Kabupaten Sumbawa merupakan satu-satunya Kota Pusaka di NTB, dengan kondisi yang sangat miris tidak memiliki identitas primordial dalam hal ini hari lahir.
Seluruh Anggota Forum Kamanang Tana Samawa bersepakat dalam melaksanakan tahapan demi tahapan hingga keluarnya Rekomendasi penetapan hari Lahir Tana Samawa, tidak membebani keuangan daerah.
Dari berbagai dukungan, masukan dan saran tersebut Forum Kamanang Tana Samawa mengusulkan dibentuknya Forum Adhock yang di SK kan oleh Bupati Sumbawa dan Bupati Sumbawa Barat. Adapun komposisi Forum Adhock nantinya berisi para budayawan, akademisi, peneliti tehnis (ahli antropoligi, ahli filologi, ahli arkeologi dan ahli bahasa/linguistic), tokoh masyarakat dan lembaga sosial lainnya.
Agenda selanjutnya, Forum Kamanang Tana Samawa berencana untuk audiensi ke Bupati Sumbawa dan Bupati Sumbawa Barat. Tidak sampai di situ, Forum ini juga akan membangun komunikasi dengan sejumlah Kampus antara lain Universitas Samawa, Universitas Teknologi Sumbawa, Universitas Mataram dan Pondok Modern International Dea Malela.
Forum Kamanang Tana Samawa akan melakukan kunjungan riset pembanding ke 14 Kesultanan/Kerajaan se Nusantara seperti Kesultanan Gowa, Kesultanan Buton, Kesultanan Ternate/Tidore, Kesultanan Bima, Kesultanan Dompu, Kerajaan Selaparang, Kerajaan Gel-Gel Bali, Kerajaan Majapahit (Jawa Timur), Kesultanan Banjar, Kesultanan Ngayogjakarta Hadiningrat, Kerajaan Sriwijaya Palembang, Kesultanan Pasai Aceh, Kesultanan Deli (Medan), dan Kesultanan Demak.
Bahkan lebih jauh lagi, untuk mendapatkan naskah akademik yang komprehensif sesuai dengan sumber daya yang ada, Forum Kamanang Tana Samawa akan melaukan riset ke Timur Tengah dan Tiongkok.



























































































