Single News

Festival Malala 2026 Resmi Dibuka, Bupati Jarot Tekankan Makna Hijrah dan Pelestarian Budaya

Liputansumbawa.id – Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., secara resmi membuka Festival Malala 2026 yang digelar di Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Selasa malam (16/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengajak masyarakat untuk terus melestarikan tradisi budaya Malala sekaligus menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum memperkuat semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

“Festival Malala adalah kebanggaan masyarakat Sumbawa yang harus terus kita lestarikan. Namun di saat yang sama, kita juga tidak boleh melupakan makna utama dari datangnya 1 Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik,” ujar Bupati Jarot.

Festival budaya tahunan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sumbawa dalam menyambut Tahun Baru Islam tersebut dihadiri Wakil Bupati Sumbawa Drs. H. Mohamad Ansori, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, pimpinan DPRD, kepala OPD, serta perwakilan dari 23 kecamatan se-Kabupaten Sumbawa.

Bupati Jarot memberikan apresiasi kepada masyarakat Kecamatan Moyo Hilir sebagai tuan rumah serta seluruh kecamatan yang berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah tersebut.

Festival Malala merupakan tradisi pembuatan minyak tradisional khas Sumbawa yang diracik dari berbagai bahan alami seperti akar pohon, rempah-rempah, daun-daunan, kulit kayu, dan bahan alam lainnya. Proses pembuatannya dipimpin oleh tabib atau sandro yang memiliki pengetahuan khusus yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurut Bupati, tradisi Malala tidak hanya memiliki nilai sebagai pengobatan tradisional, tetapi juga mengandung nilai spiritual, hubungan harmonis antara manusia dan alam, serta semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sumbawa.

Ia juga berharap para sandro dan pelaku tradisi Malala terus mewariskan ilmu dan keahlian yang dimiliki kepada generasi muda agar tradisi tersebut tetap lestari di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi.

“Warisan budaya seperti Malala harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya.

Festival Malala setiap tahunnya juga dikenal dengan berbagai nama unik minyak tradisional yang dihasilkan, seperti Linggis Kali Pitu, Toar Basa, Salopas Urat, hingga Linir Subuh. Nama-nama tersebut memiliki filosofi dan makna tersendiri yang mencerminkan kekayaan budaya serta kearifan lokal masyarakat Sumbawa.

Melalui Festival Malala, Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap nilai-nilai budaya, tradisi, dan semangat kebersamaan yang diwariskan para leluhur tetap terjaga sekaligus menjadi bagian dari identitas daerah yang terus berkembang di masa depan. (Editorial)