Liputansumbawa.id–Pelestarian situs cagar budaya di Kabupaten Sumbawa membutuhkan perhatian serius, terutama terkait akses jalan menuju sejumlah situs bersejarah yang dinilai masih memprihatinkan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pegiat Budaya sumbawa, Rian Ozil, yang mendorong pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar lebih serius melindungi peninggalan sejarah dan kebudayaan Samawa.
Menurut Bang Rian sapaannya, sejarah dan budaya merupakan fondasi penting dalam membangun identitas suatu bangsa. Bangsa yang memahami sejarah leluhurnya akan lebih mampu mengenali jati diri, menggali potensi, serta mengembangkan nilai-nilai kebudayaan sesuai dengan perkembangan zaman.
Ia menilai, kebesaran suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemajuan pembangunan modern, tetapi juga dari kemampuannya menjaga dan merelevansikan warisan leluhur dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Budaya dan sejarah adalah aspek yang penting karena fundamental. Negara bangsa yang tidak menjaga nilai-nilai budaya dan sejarahnya akan terjebak dalam bias identitas, tidak mengenal genealoginya, sehingga latah dalam berkebijakan,” ungkapnya, Jum’at (9/10/2026).
Bang Rian menjelaskan, salah satu bentuk nyata dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat adalah melindungi situs-situs cagar budaya sekaligus melembagakan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.
Namun, berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah situs bersejarah di wilayah Samawa, masih terdapat beberapa lokasi yang membutuhkan perhatian, terutama dalam hal aksesibilitas dan pemeliharaan kawasan.
Akses Menuju Situs Ai Renung Jadi Perhatian
Salah satu situs yang menjadi sorotan adalah Situs Sarkofagus Ai Renung yang berada di wilayah Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa.
Menurut Bang Rian, kondisi akses menuju situs tersebut masih menjadi kendala bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin berkunjung.
Ia menggambarkan jalur menuju Situs Ai Renung memiliki karakteristik berbatu cadas, dengan kontur tanah berdebu dan licin. Selain itu, pengunjung juga harus melewati tumbuhan liar yang tumbuh cukup tinggi di sepanjang jalur menuju lokasi.
Kondisi tersebut dinilai dapat menyulitkan perjalanan pengunjung, termasuk pelajar yang ingin mempelajari sejarah secara langsung melalui kunjungan ke situs cagar budaya.
Tidak hanya Ai Renung, Bang Rian juga menyoroti akses menuju situs Tarakin dan Ai Dongan yang menurutnya perlu mendapat perhatian agar lebih mudah dijangkau.
Di sisi lain, ia menilai Situs Raboran memiliki kondisi akses jalan yang relatif baik, sementara penataan dan perawatan lokasinya juga terlihat lebih rapi.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perhatian yang merata terhadap berbagai situs bersejarah di Kabupaten Sumbawa, baik dari segi aksesibilitas, pemeliharaan, maupun pengelolaan kawasan.
“Kalau akses bagus, anak-anak sekolah bisa menapaki situs-situs itu,” ujarnya.
Menurutnya, kemudahan akses bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan juga bagian dari upaya membuka ruang pembelajaran sejarah dan kebudayaan bagi generasi muda.
Makam Sampar Butuh Perlindungan Khusus
Selain sejumlah situs peninggalan sejarah, Bang Rian turut menyoroti keberadaan Makam Sampar di wilayah Kelurahan Pekat, tepatnya di kawasan sekitar Bukit Pamanto.
Ia menjelaskan, terdapat lokasi Makam Sampar yang telah ditembok di kawasan Seketeng, dekat Bukit Permai. Sementara itu, lokasi Makam Sampar yang menjadi bagian dari penelusuran atau napak tilas sejarah berada di wilayah Kelurahan Pekat.
Menurutnya, lokasi yang berada di wilayah Kelurahan Pekat tersebut membutuhkan perhatian khusus karena memiliki nilai sejarah yang penting bagi masyarakat Samawa.
Bang Rian menyebutkan bahwa kawasan itu berkaitan dengan keberadaan makam raja-raja Samawa terdahulu. Karena itu, perlindungan dan pemeliharaan kawasan dinilai penting agar peninggalan sejarah tersebut tetap terjaga.
Ia bersama sejumlah budayawan dan Lurah Pekat juga pernah melakukan kegiatan pembersihan serta penataan lahan di kawasan tersebut.
Meski demikian, ia menilai upaya tersebut perlu didukung dengan langkah perlindungan yang lebih berkelanjutan, termasuk pembangunan tembok pembatas di area makam agar kawasan lebih tertata dan terawat.
Baginya, menjaga makam dan situs bersejarah bukan hanya mempertahankan keberadaan peninggalan fisik, melainkan juga menghormati perjalanan sejarah dan perjuangan para pendahulu masyarakat Samawa.
Pemerintah Daerah Didorong Lebih Serius
Bang Rian berharap Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui OPD terkait memberikan perhatian khusus terhadap peninggalan sejarah dan kebudayaan yang tersebar di wilayah Samawa.
Menurutnya, pengelolaan cagar budaya perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pendataan, penelitian, perlindungan, penetapan status, pemeliharaan, hingga pemanfaatannya untuk kepentingan pendidikan dan kebudayaan.
Ia juga mendorong agar pengelolaan situs bersejarah dilakukan secara terbuka dengan melibatkan masyarakat, budayawan, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian sejarah lokal.
Dengan demikian, cagar budaya tidak hanya dipandang sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, identitas, dan ingatan kolektif masyarakat yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bang Rian menegaskan bahwa di balik berbagai situs bersejarah tersebut terdapat nilai-nilai luhur yang perlu terus dikenalkan kepada masyarakat, mulai dari adat istiadat, sopan santun, hingga semangat perjuangan para leluhur dalam menjaga tanah Samawa.
Ia menilai, pemahaman terhadap sejarah dan budaya juga penting bagi para pemimpin agar kebijakan pembangunan yang diambil tidak terlepas dari identitas dan karakter masyarakat yang dipimpinnya.
“Hanya bangsa yang mengenal siapa dirinya akan mengenal potensinya, dan memaksimalkan potensi tersebut menjadi kemaslahatan masyarakatnya,”
tegasnya.
Ia menambahkan, seorang pemimpin perlu memiliki perspektif sejarah dan budaya agar tumbuh rasa memiliki terhadap masyarakat dan wilayah yang dipimpinnya.
Momentum JKPI untuk Memperkenalkan Sejarah Samawa
Perhatian terhadap akses dan pelestarian cagar budaya tersebut dinilai semakin penting menjelang penyelenggaraan kegiatan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) akan menempatkan Sumbawa sebagai tuan rumah.
Bang Rian memandang momentum tersebut sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan kebudayaan Samawa kepada para tamu yang berkunjung.
Situs-situs bersejarah berpotensi menjadi bagian dari tujuan kunjungan untuk mengenalkan identitas dan perjalanan peradaban masyarakat Sumbawa.
Namun, menurutnya, persoalan aksesibilitas perlu menjadi perhatian sejak awal. Apabila kondisi jalan menuju situs, khususnya Ai Renung, belum dibenahi, hal itu dapat menjadi kendala bagi pengunjung yang ingin melihat langsung peninggalan sejarah tersebut.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dan OPD terkait dapat memperkuat koordinasi dalam mempersiapkan kawasan cagar budaya, baik melalui perbaikan akses, pemeliharaan lingkungan, maupun penyediaan informasi sejarah yang memadai.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mendukung kunjungan wisata dan kegiatan kebudayaan, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi pendidikan serta pelestarian identitas masyarakat Samawa.
“Yang perlu kita selamatkan bukan hanya benda dan bangunannya, tetapi juga sejarah, pengetahuan, dan ingatan kolektif yang melekat di dalamnya,” pungkasnya. (Ek)


























































































