Single News

KTS dan UTS Bahas Hari Lahir Tana Samawa, Dorong Kajian Akademik Lebih Mendalam

Liputansumbawa.id—Polemik penetapan Hari Lahir Tana Samawa kembali mengemuka. Forum Kamanang Tana Samawa (KTS) menggandeng Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) untuk menggelar diskusi terbuka yang menitikberatkan pada pentingnya kajian akademik dalam menentukan momentum sejarah tersebut, Selasa (19/5/2026).

Diskusi yang berlangsung di kampus UTS ini menjadi ruang temu antara kegelisahan masyarakat dan pendekatan ilmiah. Ketua Forum KTS, Mallarangang Syarifuddin, dalam pembukaan menyampaikan bahwa hingga kini penetapan Hari Lahir Sumbawa dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan perjalanan panjang sejarah Tana Samawa.

“Kami melihat ada keresahan di tengah masyarakat. Hari lahir yang saat ini diperingati masih dihitung 67 tahun, sementara jejak sejarah Tana Samawa jauh lebih panjang dari itu,” tegasnya.

KTS juga memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan, mulai dari pengumpulan referensi hingga mendorong diskusi publik sebagai dasar kajian yang lebih komprehensif.

Pihak UTS menyambut serius gagasan tersebut. Rektor UTS, Niken Saptarini, menyatakan keselarasan pandangan dengan KTS. Ia menegaskan kampus siap mengambil peran strategis dalam proses pengkajian ilmiah.

“UTS siap berkontribusi. Kami akan melibatkan dosen sejarah dan Pusat Studi Kebudayaan untuk memperkuat kajian akademik terkait Hari Lahir Tana Samawa,” ujarnya.

Senada, Wakil Rektor I Rusmin Nurjadin mengungkapkan bahwa isu ini bukan hal baru dan telah beberapa kali menjadi pembahasan dalam forum intelektual seperti “Laong Pantar”. Ia menilai keberadaan Pusat Studi Kebudayaan di UTS dapat menjadi motor penggerak lahirnya rekomendasi ilmiah.

“Pembahasan ini harus diformalkan dalam seminar, diskusi ilmiah, dan forum akademik lainnya agar menghasilkan dasar yang kuat,” jelasnya.

Sementara itu, Aka Kurnia dari Pusat Studi Kebudayaan menekankan bahwa penentuan Hari Lahir Tana Samawa tidak bisa dilepaskan dari konteks kebudayaan secara utuh.

“Kebudayaan bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa depan. Apa yang kita putuskan hari ini akan menentukan arah identitas masyarakat ke depan,” katanya.

Diskusi berlangsung dinamis dan menghasilkan sejumlah kesepahaman. UTS secara terbuka menyatakan kesiapan mendukung kajian akademik, sementara KTS dan pihak kampus sepakat membuka ruang kolaborasi lanjutan.

Penentuan Hari Lahir Tana Samawa ditegaskan bukan sekadar persoalan historis, tetapi juga menyangkut identitas budaya dan arah masa depan masyarakat Samawa.

Dalam kesempatan yang sama, pendiri UTS, Dr. H. Zulkieflimansyah turut memberikan catatan kritis. Ia mendorong agar diskusi tidak berhenti pada romantisme sejarah semata, tetapi berkembang menjadi diskursus intelektual yang berdampak nyata.

“Pertanyaannya, apakah ini bisa menjadi diskusi akademik yang kuat? Apakah juga bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat? Sejarah penting, tapi masa depan juga harus dipikirkan,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya menjadikan momentum ini sebagai pintu masuk untuk pengembangan budaya, pendidikan, hingga pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumbawa secara berkelanjutan.

Diskusi ini menjadi sinyal awal bahwa penetapan Hari Lahir Tana Samawa ke depan akan diarahkan melalui pendekatan ilmiah, terbuka, dan kolaboratif bukan sekadar kesepakatan administratif. (LS)