Single News

PUSKAP: Wisata Hiu Paus Teluk Saleh Tingkatkan Kesejahteraan Warga, Tata Kelola Perlu Diperkuat

Liputansumbawa.id – Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan (PUSKAP) Sumbawa memaparkan hasil akhir penelitian tentang peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam pengembangan wisata Hiu Paus di Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa.

Hasil penelitian tersebut diekspose di Aula Bapperida Kabupaten Sumbawa, Selasa (10/6/2026), dan dihadiri sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Penelitian yang dilaksanakan PUSKAP Sumbawa bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa itu berlangsung selama empat bulan, mulai Maret hingga Juni 2026. Kajian tersebut bertujuan menganalisis peran Pokdarwis dalam pengelolaan wisata Hiu Paus serta merumuskan rekomendasi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

Dalam kegiatan tersebut, hasil penelitian dipaparkan langsung oleh Tim Peneliti PUSKAP, yakni Syamsul Bahri, S.Pi., M.Si., dan Donny Wijaya, S.IP., M.Si.
Sekretaris Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dwi Rahayu, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas penelitian yang dinilai sejalan dengan prioritas pembangunan daerah, khususnya pada sektor pariwisata dan kelautan.

Ia juga menekankan pentingnya tindak lanjut terhadap berbagai rekomendasi yang dihasilkan.
Mewakili tim peneliti, Syamsul Bahri menjelaskan bahwa wisata Hiu Paus di Teluk Saleh, Desa Labuhan Jambu, telah menjadi salah satu destinasi ekowisata unggulan yang memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Bahkan, jumlah kunjungan wisatawan terus mengalami peningkatan signifikan pascapandemi.

Meski demikian, hasil penelitian menemukan sejumlah aspek yang masih memerlukan perhatian. Dari sisi ekonomi, diperlukan penguatan distribusi manfaat wisata kepada masyarakat lokal, termasuk optimalisasi potensi retribusi dan pemberdayaan pelaku usaha mikro.

Pada aspek sosial, partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan perlu terus ditingkatkan, disertai penguatan implementasi aturan yang telah ada. Sementara pada aspek konservasi, diperlukan pengaturan jumlah kunjungan wisatawan, penerapan kode etik interaksi dengan hiu paus, serta penghitungan daya dukung kawasan.

“Temuan penelitian menunjukkan bahwa wisata Hiu Paus di Teluk Saleh telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun di sisi lain, aktivitas wisata yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan ancaman bagi hiu paus, seperti meningkatnya stres, luka pada tubuh, hingga gangguan kesehatan akibat pemberian pakan yang terlalu sering,” ujar Syamsul Bahri.

Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan perbaikan tata kelola wisata Hiu Paus di masa mendatang.

“Kami melihat potensi besar wisata Hiu Paus di Sumbawa. Namun diperlukan pengelolaan yang lebih terstruktur agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan, baik oleh masyarakat maupun lingkungan,” tambahnya.

Dalam sesi diskusi, sejumlah OPD menyatakan dukungan terhadap rekomendasi penelitian tersebut. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa melalui Sekretaris Dinas, Nurhikhah, menyatakan kesiapan menjadi leading sector dalam penghitungan daya dukung kawasan sekaligus mendukung penerapan biaya konservasi.

Sementara itu, Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kabupaten Sumbawa mendukung standarisasi pemandu wisata serta penerapan kode etik interaksi dengan hiu paus.
Di sisi lain, Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DiskUKMindag) berkomitmen memfasilitasi program pemberdayaan UMKM dan pelatihan bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh aktivitas wisata.
Sebagai tindak lanjut, peserta ekspose juga mendorong pembentukan Tim Koordinasi Lintas OPD guna mengawal implementasi rekomendasi penelitian.

Bapperida Kabupaten Sumbawa menyatakan siap memfasilitasi koordinasi dan penganggaran kegiatan prioritas yang dibutuhkan.
Kegiatan ekspose ditutup dengan komitmen bersama untuk mewujudkan wisata Hiu Paus Teluk Saleh sebagai destinasi unggulan yang berkelanjutan, berbasis konservasi, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat lokal. (LS)