Liputansumbawa—Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, meninjau langsung kondisi harga bahan pokok di Pasar Brang Biji, Kabupaten Sumbawa, Kamis (12/3/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori dan unsur Forkopimda.
Kunjungan ini dilakukan untuk memantau langsung perkembangan harga bahan pangan di pasar, mengingat inflasi yang terjadi belakangan ini cukup tinggi dan sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga bahan makanan.
“Alhamdulillah tadi bersama Pak Bupati, Pak Wabup, Pak Danrem, dan Pak Sekda kami turun langsung melihat situasi harga pasar menjelang Lebaran. Sebagaimana kita ketahui bahwa inflasi belakangan ini cukup tinggi dan penyumbang terbesar berasal dari bahan makanan, dari sektor pangan,” ujar Gubernur.
Ia menjelaskan, salah satu komoditas yang mengalami kenaikan signifikan adalah cabai, khususnya di beberapa wilayah Pulau Lombok seperti Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Barat.
Menurutnya, pemerintah sebelumnya telah melakukan intervensi dengan mendatangkan pasokan cabai dari Enrekang guna menekan lonjakan harga di pasaran.
“Kami sudah melakukan intervensi beberapa waktu lalu dengan mendatangkan cabai dari Enrekang untuk Lombok Timur dan Lombok Tengah. Alhamdulillah sekarang mulai terkendali meskipun harganya masih cukup tinggi,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan di pasar tersebut, sejumlah komoditas seperti telur, cabai, dan minyak goreng masih berada pada harga yang relatif tinggi. Hal ini disebabkan pasar tersebut bukan merupakan pasar induk serta rantai distribusi barang yang cukup panjang.
Gubernur menjelaskan, sebagian pedagang di pasar tersebut belum terdaftar sebagai distributor resmi minyak goreng dari Perum Bulog, sehingga harga masih dipengaruhi oleh distribusi berlapis.
“Di sini tadi kita cek karena ini bukan pasar induk, jadi memang harganya agak tinggi. Baik telur maupun cabai, termasuk minyak goreng, masih cukup mahal karena rata-rata pedagang di sini belum menjadi distributor minyak dari Bulog,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar barang yang dijual pedagang sudah melewati rantai distribusi hingga tangan keempat bahkan kelima. Akibatnya, harga minyak goreng masih berada di kisaran Rp110 ribu hingga Rp120 ribu, padahal seharusnya sudah mulai turun di kisaran Rp95 ribu.
Untuk itu, gubernur meminta pengelola pasar segera mendaftarkan para pedagang sebagai distributor resmi agar distribusi lebih pendek dan harga dapat ditekan.
Terkait pola intervensi harga, Gubernur NTB menjelaskan bahwa komoditas pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula relatif lebih mudah dikendalikan karena distribusinya melibatkan Bulog secara langsung.
Namun berbeda dengan cabai yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta mekanisme pasar antara ketersediaan dan permintaan.
“Cabai memang agak sulit diintervensi karena faktor cuaca. Para petani yang sudah kami hubungi rata-rata masih menunggu cuaca lebih stabil dan panas untuk panen. Sebagian besar kemungkinan panen setelah Lebaran,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan menjelang Lebaran, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional guna mencari daerah yang memiliki harga cabai lebih rendah agar dapat didatangkan ke NTB sebagai bagian dari intervensi pasar.
“Kami terus berkomunikasi dengan Badan Pangan untuk melihat daerah mana yang harga cabainya lebih murah, sehingga bisa didatangkan ke sini untuk membantu menstabilkan harga di pasar,” pungkasnya. (Marwan/Yuli/Amel)







































































