Liputansumbawa.id–Semangat menjaga identitas, sejarah, bahasa dan kebudayaan Samawa kembali digaungkan dalam kegiatan “Semalam Berbudaya” yang digelar Lembaga Budayasa, Sabtu (15/8/2026) malam di lapangan Sumbawa Besar.
Kegiatan yang memasuki pelaksanaan kedua tersebut menjadi ruang untuk meneguhkan kembali rasa bangga sebagai Tau Samawa, sekaligus mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak membiarkan budaya dan bahasa Samawa tergerus arus globalisasi dan modernisasi.
Ketua Panitia Semalam Berbudaya, Arie Afriliansyah, menegaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari sebuah kegelisahan sekaligus semangat bersama bahwa Samawa tidak boleh hilang di tanahnya sendiri dan Tau Samawa harus bangga menjadi Samawa.
Menurut Arie, Samawa bukan sekadar identitas administratif, melainkan sebuah peradaban yang telah memiliki sejarah panjang. Sejumlah jejak peradaban seperti Kedatuan Ai Renung, Tarakin, Raboran, Ai Dongan, Sampar Samulan, Sampar Samawa, Utan Kadali hingga Gunung Galesa disebut sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah Samawa.
Hal yang menjadi perhatian serius, kata Arie, adalah keberlangsungan bahasa Samawa. Bahasa yang memiliki kekayaan diksi serta nilai filosofis tersebut dinilai menghadapi ancaman kepunahan apabila tidak segera diperkuat melalui pendidikan dan kelembagaan budaya.
“Anak-anak kita hari ini tidak berbahasa Samawa lagi. Hal itu harus menjadi kekhawatiran kolektif semua pemangku kebijakan. Karena apabila kita abai, maka Bahasa Sumbawa dalam dua generasi ke depan akan hilang di tanahnya sendiri,” tegas Arie.
Atas dasar kekhawatiran tersebut, Arie menjelaskan bahwa Lembaga Budayasa hadir dengan semangat kesamawaan dan rasa bangga menjadi Tau Samawa. Semangat itu ingin ditularkan kepada generasi muda agar tidak melupakan sejarah tanah tempat mereka berpijak.
Karena itu, ia mendorong agar budaya, sejarah dan bahasa Samawa dilembagakan di sekolah-sekolah sehingga memiliki ruang yang kuat dalam proses pendidikan generasi penerus.
Samawa Pernah Teruji oleh Zaman
Arie juga mengingatkan bahwa masyarakat Samawa merupakan bagian dari peradaban yang telah terbukti mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan dan tantangan zaman.
Ia menyinggung letusan Gunung Tambora pada 1815 yang berdampak besar hingga Eropa. Ketika sejumlah wilayah di Eropa mengalami gagal panen, keruntuhan kerajaan dan kematian massal akibat dampak letusan tersebut, masyarakat dan Kesultanan Samawa disebut tetap mampu bertahan menghadapi ujian alam dan zaman.
“Tau Samawa adalah bangsa yang pernah survive dan tau cara untuk survive,” ujar Arie.
Ia berharap kegiatan Semalam Berbudaya dapat menjadi pemicu bagi para pelaku budaya lainnya di Tana Intan Bulaeng untuk semakin memperkuat rasa memiliki terhadap tanah Samawa.
Menurutnya, tidak ada peradaban besar yang mampu bertahan hingga hari ini tanpa menyadari dan mengetahui kebesaran leluhurnya di masa lalu.
Karena itu, Arie mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga agar nama Samawa tetap dikenal sebagai sebuah peradaban dengan sejarah panjang, bukan sekadar nama kawasan administratif.
“Kita semua ingin mengingat kata Samawa dengan kebesaran dan panjang sejarah peradabannya. Kita semua tidak ingin suatu hari nanti Samawa memiliki definisi yang ironis, hanyalah sebuah kawasan administratif dari Tarano sampai Alas Barat,” tegasnya.
Kegiatan Semalam Berbudaya tersebut terselenggara berkat dukungan sejumlah pihak, di antaranya Pemerintah Kabupaten Sumbawa, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, Datu Land, Lapade, Bale Panda, Liputan Sumbawa serta dukungan penuh Studio 17
Arie Afriliansyah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, baik yang bertugas di atas maupun di belakang panggung. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak mungkin terlaksana tanpa kerja sama seluruh pihak yang terlibat.
Ketua Panitia Semalam Berbudaya tersebut mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan itu bukan sekadar sebuah pertunjukan, tetapi momentum untuk menanamkan kembali kecintaan terhadap identitas dan kebudayaan Samawa.
“Semoga sepulang dari sini, rasa kesamawaan makin tertanam kuat di hati dan pikiran kita, ” imbuhnya.
Semalam Berbudaya menampilkan sejumlah atraksi kesenian daerah Sumbawa seperti lagu berbahasa Sumbawa, Badia, dan Badede. Ribuan pengunjung memadati lokasi perhelatan Semalam Berbudaya.

Yang sangat menyita perhatian ketika Det Simponi tampil membawa lagu Samawa Intan Alam, Sopo Dua dan lagu Babala. Dilanjutkan dengan penampilan Band Rajasua yang juga memiliki tempat di hati para anak muda. (MK)


























































































