Liputansumbawa.id—Universitas Samawa (UNSA) menggelar bedah buku Pulau Sumbawa Tahun 1847 karya Heinrich Zollinger, Kamis (27/8/2026), di Auditorium Universitas Samawa.
Kegiatan mengusung tema “Baca Sejarah, Suluh Masa Depan” dan menghadirkan sejumlah akademisi serta pemerhati sejarah sebagai narasumber.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi sekaligus membuka ruang diskusi akademik mengenai sejarah, budaya dan identitas masyarakat Sumbawa.

Rektor Universitas Samawa, Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd., dalam sambutannya, menekankan pentingnya kegiatan literasi dan forum ilmiah di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang bagi lahirnya gagasan, kajian dan pemikiran kritis yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan semakin terdorong untuk membaca dan memahami berbagai sumber sejarah, khususnya sejarah lokal Sumbawa.
Wakil Bupati Sumbawa Mohammad Ansori Sumbawa apresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai forum ilmiah dan literasi seperti bedah buku memiliki arti penting bagi kemajuan daerah.
Lebih lanjut Ansori menjelaskan bahwa perguruan tinggi, merupakan ruang strategis untuk melahirkan gagasan dan kajian intelektual yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan Sumbawa.
“Dari ruang akademis inilah lahir pemikiran kritis yang kita butuhkan untuk membawa Sumbawa melangkah ke depan tanpa kehilangan akar identitasnya,” ujar Wabup.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga adat dan budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, kemajuan daerah harus tetap berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Sumbawa.
“Membaca sejarah adalah penerang jalan menuju masa depan. Bagi generasi muda, sejarah tidak sekadar untuk dibaca atau dihafal, melainkan menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga,” tegasnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber seperti
Prof. Iwan Jazadi, Ph.D., Dr. Burhanuddin, M.Hum., Nurdin Ranggabarani, S.H., M.H., serta Poetra Adi Soerjo, yang merupakan penerjemah buku Pulau Sumbawa Tahun 1847 sekaligus narasumber dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran para narasumber memberikan perspektif yang beragam dalam membahas isi buku serta konteks sejarah Pulau Sumbawa. Buku Pulau Sumbawa Tahun 1847 sendiri merupakan catatan perjalanan Heinrich Zollinger, peneliti asal Swiss yang melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah Nusantara pada 1847, termasuk Pulau Sumbawa. Catatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Poetra Adi Soerjo.
Kegiatan bedah buku diharapkan dapat mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk semakin mengenal sejarah daerahnya sendiri. Sejarah dinilai tidak hanya penting untuk memahami masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan dalam menjaga identitas, budaya dan nilai-nilai masyarakat Sumbawa di tengah perkembangan zaman.
Melalui tema “Baca Sejarah, Suluh Masa Depan”, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat tradisi membaca, berdiskusi dan meneliti di kalangan mahasiswa serta mendorong lahirnya lebih banyak kajian mengenai sejarah dan kebudayaan Sumbawa.
Dengan demikian, bedah buku Pulau Sumbawa Tahun 1847 tidak hanya menjadi kegiatan literasi, tetapi juga menjadi ruang akademik untuk memperkuat kesadaran generasi muda terhadap sejarah dan jati diri Tau dan Tana Samawa. (Don)


























































































