Liputansumbawa.id—Kamis (1/10/2026) malam di kediaman Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, di Kelurahan Lempeh, terasa berbeda. Doa-doa dipanjatkan.
Keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat daerah hingga warga sekitar berkumpul dalam satu suasana memohon keberkahan menjelang pernikahan putra Wabup Sumbawa, Mohammad Labib Ikhsan Sarjan, S.E. dengan Dahlia Anis Febriana, S.IP.
Kedua calon mempelai dijadwalkan akan melangsungkan akad nikah pada Sabtu (3/10/2026) di kediaman mempelai pria, dan melangsungkan resepsi pernikahan pada Minggu (4/10/2026) di Taman Kerato, Desa Uma Beringin, Unter Iwes.
Namun malam itu tidak hanya diisi dengan doa. Nuansa adat Samawa turut mengalir melalui lantunan Sakeco Selaki dan Sakeco Sawai yang dibawakan Sanggar Seni Cindai Bulaeng. Bait-bait Sakeco yang sarat pesan kehidupan membuat suasana semakin kental dengan identitas Tana Samawa.
Sakeco bukan sekadar seni tutur. Di dalamnya terselip nasihat tentang kehidupan, rasa syukur kepada Allah SWT, hingga pesan bagi pasangan yang akan membangun rumah tangga.
Pesan-pesan itulah yang menjadi bagian penting dalam doa bersama keluarga besar Wabup Sumbawa tersebut.
Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, mengatakan kegiatan itu menjadi bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar keluarga untuk memohon doa restu masyarakat menjelang pernikahan putranya.
“Alhamdulillah, malam ini kita berkumpul dalam suasana penuh keberkahan. Kehadiran bapak ibu semua, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar, merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi keluarga kami,” ujar Ansori.
Menurutnya, sengaja dipilihnya Sakeco sebagai bagian dari rangkaian kegiatan merupakan bentuk kecintaan keluarga terhadap adat dan budaya Samawa.
Terlebih, pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga mempertemukan dan menyatukan dua keluarga besar.
“Kami sengaja menampilkan Sakeco ini sebagai bentuk syukur dan permohonan doa. Sekeco mengandung banyak nasihat bijak tentang kehidupan rumah tangga. Ini adalah warisan budaya yang harus kita jaga dan lestarikan, terutama dalam momen sakral seperti ini,” katanya.
Setelah lantunan Sakeco, suasana berlanjut dalam kekhusyukan doa yang dipimpin Ustad Salzah.
Doa dipanjatkan agar seluruh rangkaian pernikahan diberikan kelancaran, keberkahan dan perlindungan Allah SWT. Harapan yang sama diarahkan kepada kedua calon pengantin agar kelak membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Di tengah suasana tersebut, para pejabat daerah yang hadir juga tampak membaur dengan masyarakat. Kepala OPD, camat, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda hingga tokoh adat duduk bersama dalam suasana yang cair.
Bagi Ansori, momentum menjelang pernikahan putranya sekaligus menjadi ruang untuk kembali mengingat pentingnya menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.
Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal adat Samawa sebagai warisan masa lalu, tetapi juga mampu menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Kami mohon doa restu dari seluruh masyarakat Sumbawa agar prosesi pernikahan anak kami berjalan lancar. Doa dan dukungan dari bapak ibu semua sangat berarti bagi kami sekeluarga,” tuturnya.
Malam kemudian ditutup dengan ramah tamah dan santap malam bersama.
Di antara percakapan, salam dan keakraban para tamu, terselip satu pesan yang lebih besar bahwa di tengah perubahan zaman, adat Samawa masih memiliki ruang untuk hidup—terutama ketika sebuah keluarga merayakan salah satu fase terpenting dalam kehidupan.
Bagi keluarga Wabup Sumbawa, malam itu bukan sekadar doa menjelang pernikahan. Sakeco, doa dan silaturahmi menjadi satu rangkaian yang mempertemukan tradisi, keluarga dan masyarakat dalam satu suasana kebersamaan. (MK)


























































































