Single News

BMKG Gelar Sekolah Lapangan Iklim di Sumbawa, Perkuat Literasi Iklim untuk Antisipasi Bencana dan Dukung Swasembada Pangan

Liputansumbawa.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar kegiatan Sekolah Lapangan Iklim (SLI) di Bale Restorasi Perate, Kabupaten Sumbawa, Senin (15/6/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BMKG dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap informasi iklim agar dapat dimanfaatkan secara optimal, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan potensi bencana hidrometeorologi.

Mengusung tema “Informasi Iklim untuk Mengantisipasi Bencana Hidrometeorologi”, kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari petani, BPBD, Relawan PMI Taruna Siaga Bencana (Tagana), Pramuka, dan Nakes.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB, Nuja Putrantijo, mengatakan bahwa Sekolah Lapang Iklim merupakan sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami informasi iklim yang disediakan BMKG sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor kehidupan, terutama pertanian.

Sementara itu, Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marzuki, menjelaskan bahwa perubahan iklim saat ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan telah nyata dirasakan dampaknya, terutama di sektor pertanian yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan iklim.

Menurutnya, kehadiran para peserta dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif untuk bersama-sama mengantisipasi dampak perubahan iklim sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.

“Petani merupakan garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan. Karena itu diperlukan pemahaman terhadap data dan informasi iklim agar mereka mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sehingga produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.

Marzuki menambahkan, program Sekolah Lapang Iklim telah berjalan sejak tahun 2010 dan terus berkembang dengan menghadirkan berbagai inovasi pembelajaran serta penerapan teknologi di lapangan. Melalui SLI, petani tidak hanya mendapatkan pengetahuan dasar mengenai iklim, tetapi juga diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi dan data yang dapat membantu pengambilan keputusan dalam aktivitas pertanian.

“Data yang tersedia saat ini dapat langsung diolah dan dimanfaatkan tanpa harus melakukan pengamatan iklim secara mandiri. Ini menjadi salah satu bentuk inovasi yang dapat membantu petani menghadapi tantangan perubahan iklim,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kolaborasi antara berbagai pihak di tengah derasnya arus informasi dan tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

“BMKG hadir sebagai inisiator, tetapi keberhasilan adaptasi terhadap perubahan iklim membutuhkan dukungan dan kerja sama semua pihak. Semoga langkah kolaboratif ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat ke depan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, yang mengikuti kegiatan secara hibrid melalui Zoom, menyampaikan apresiasi kepada BMKG yang memilih Kabupaten Sumbawa sebagai lokasi pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim.

Menurut Mori, Kabupaten Sumbawa merupakan daerah yang sebagian besar masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian, sehingga informasi iklim menjadi kebutuhan yang sangat penting.

“Perubahan iklim harus diantisipasi sejak dini. Ke depan kita harus memiliki pengetahuan yang lebih baik dalam menentukan masa tanam dan langkah-langkah adaptasi lainnya. Saya berharap ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini dapat diteruskan dan dimanfaatkan oleh para petani,” ujarnya.

Ia juga berharap BMKG terus meningkatkan akurasi informasi, sistem peringatan dini (Early Warning System), serta berbagai layanan yang dapat membantu petani dalam mengambil keputusan.

“Peran BMKG sangat penting, tidak hanya bagi petani di Sumbawa tetapi juga bagi petani di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang. Salah satunya unsur pimpinan redaksi Liputansumbawa.id, Muhammad Kaniti, yang memaparkan pentingnya sinergi antara BMKG dan media massa dalam menyebarluaskan informasi cuaca dan iklim kepada masyarakat.

Menurutnya, media digital dan media sosial memiliki jangkauan yang luas sehingga mampu menyampaikan informasi secara cepat dan efektif kepada masyarakat.

“Kerja sama antara BMKG dan media massa sangat penting agar informasi iklim dan cuaca dapat diterima masyarakat secara luas. Media yang aktif di platform digital dan media sosial memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi secara cepat, akurat, dan mudah dipahami,” paparnya.

Melalui Sekolah Lapang Iklim ini, BMKG berharap semakin banyak masyarakat yang mampu memahami informasi iklim dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga risiko bencana dapat diminimalkan dan ketahanan sektor pertanian semakin kuat di tengah tantangan perubahan iklim yang terus berkembang.

Di samping menerima materi tehnis tentang info BMKG dan fitur-fitur yang tersedia di website dan akun medos BMKG, para peserta juga diberikan pre tes dan post tes hingga game tentang membaca peta prakiran cuaca dan analisis cuaca dasarian, bulanan dan tahunan oleh pihak BMKG. (LS)