Single News

Festival Berakhir, Budaya Samawa Jangan Ikut Berakhir

Liputansumbawa.id—Lampu panggung Festival Budaya Paroso di Lapangan Desa Moyo, Kecamatan Moyo Hilir, boleh saja dipadamkan. Riuh penonton dan sorak para peserta juga perlahan berakhir. Namun, satu hal yang diharapkan tidak ikut berhenti malam itu: semangat masyarakat untuk menjaga budaya Samawa.

Pesan itulah yang mengemuka saat Festival Budaya Paroso Kecamatan Moyo Hilir Tahun 2026 resmi ditutup Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP., Minggu (9/8/2026) malam.

Bagi Bupati, penutupan festival bukan berarti berakhirnya upaya merawat kebudayaan. Yang ditutup hanyalah rangkaian acaranya. Sementara semangat menjaga warisan budaya harus terus hidup di tengah masyarakat.

Selama beberapa hari pelaksanaan, Festival Budaya Paroso memperlihatkan bahwa budaya Samawa masih memiliki ruang yang kuat di tengah masyarakat. Bahkan, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu tanda bahwa warisan budaya tersebut belum kehilangan tempat di hati generasi penerus.

Tema “Merawat Warisan, Menggerakkan Peradaban” pun tidak berhenti sebagai slogan. Festival menghadirkan partisipasi masyarakat dalam berbagai permainan tradisional dan kesenian khas Samawa.

Sebanyak 182 peserta mengikuti permainan tradisional Kolo dan Rabanga. Pawai budaya melibatkan sekitar 1.440 orang, sementara 185 peserta tampil dalam sejumlah cabang seni tradisi, mulai dari Basakeco, Ngumang, Bakelung, Rabalas Lawas hingga Ratib Rabana Ode.

Ada anak-anak muda yang mulai mengenal kembali budaya leluhurnya. Ada orang tua yang mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Dan ada masyarakat yang menunjukkan bahwa menjadi Tau Samawa bukan sekadar identitas, tetapi sesuatu yang patut dibanggakan dan dijaga.

Bupati Sumbawa mengingatkan bahwa budaya tidak sebatas pakaian adat, tarian maupun pertunjukan di atas panggung. Di dalamnya terdapat cara masyarakat mengenali jati dirinya.

Dalam Sakeco, misalnya, terdapat kecerdasan dan pesan kehidupan. Dalam Ngumang ada keberanian dan semangat. Sedangkan dalam Lawas tersimpan nasihat dan kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, tantangan pelestarian budaya kini tidak hanya bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi juga bagaimana membuatnya tetap relevan bagi generasi muda.

Karena itu, Bupati secara khusus mengajak anak-anak muda Moyo Hilir untuk tidak malu menjadi Tau Samawa.

Generasi muda, kata dia, boleh menguasai teknologi dan mengikuti perkembangan zaman. Tetapi kemajuan teknologi jangan sampai membuat mereka kehilangan akar budayanya.

Justru sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperkenalkan budaya Samawa.

Lawas, Sakeco dan Ngumang, menurut Bupati, harus berani masuk ke ruang digital. Tidak hanya tampil di panggung festival, tetapi juga hadir di TikTok, YouTube, Instagram hingga panggung nasional.

Tujuannya bukan mengubah jati diri budaya, melainkan memperkenalkannya kepada dunia.

“Inilah Tau Samawa. Inilah budaya kami.”

Pesan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah setelah Festival Budaya Paroso ditutup. Sebab, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui festival yang berlangsung beberapa hari dalam setahun.

Budaya harus terus dimainkan, dituturkan, dipelajari, diwariskan dan diperkenalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Festival Budaya Paroso juga diarahkan tidak hanya sebagai ruang pelestarian tradisi. Pemerintah Kabupaten Sumbawa berharap kegiatan semacam ini dapat berkembang menjadi ruang untuk menggerakkan kreativitas, pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Artinya, budaya tidak harus ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya dikenang dari masa lalu. Budaya juga dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan peluang baru bagi masyarakat.

Ketika kesenian lokal mendapat panggung, ketika generasi muda ikut terlibat dan ketika masyarakat bergerak bersama, maka festival budaya dapat menjadi titik temu antara tradisi, kreativitas dan potensi ekonomi lokal.

Bupati pun memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengambil bagian. Bagi mereka yang berhasil meraih juara, kemenangan diharapkan menjadi motivasi untuk terus belajar. Sementara bagi peserta yang belum membawa pulang piala, keikutsertaan dalam festival dinilai tetap sebagai sebuah kemenangan.

Sebab, keberanian untuk tampil, kemauan untuk belajar dan kesediaan ikut menjaga budaya merupakan kemenangan yang tidak selalu berbentuk piala.

Malam itu, Festival Budaya Paroso 2026 akhirnya resmi ditutup.

Namun, pekerjaan mempertahankan budaya Samawa justru baru kembali dimulai. Panggung boleh dibongkar. Spanduk boleh diturunkan. Festival boleh berakhir. Tetapi budaya Samawa jangan ikut berakhir.

Ia harus tetap hidup di rumah-rumah masyarakat, di tengah generasi muda, di panggung-panggung kesenian dan sebagaimana pesan Bupati Sumbawa di ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan generasi baru. (MK)