Liputansumbawa.id–Himpunan Keluarga Madura (HIKMA) Kabupaten Sumbawa bersama Forum Kerukunan Lintas Etnis (FKLE) dan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) menggelar Kongkow Asyik Lintas Etnis (Kalanis) ke-V di Masjid Al Muhajirin, Brang Bara, Sumbawa, Minggu (11/10/2026) malam.
Mengusung tema “Menjaga, Merawat Adat, Tradisi dan Budaya Lintas Etnis dalam Bingkai Takit Ko Nene Kangila Boat Lenge”, kegiatan ini mempertemukan para tokoh adat, pimpinan etnis, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur masyarakat lintas etnis di Kabupaten Sumbawa.
Ketua HIKMA Kabupaten Sumbawa, Ustad Madroni, mengatakan Kalanis telah memasuki pelaksanaan kelima dan menjadi ruang dialog lintas etnis yang semakin besar. Ia bahkan mengibaratkan Kalanis sebagai Indonesia Lawyers Club (ILC)-nya Sumbawa karena menghadirkan perbincangan luas mengenai kehidupan sosial dan keberagaman masyarakat.
“Ini pekerjaan kita bersama sebagai orang Sumbawa. Anak cucu kami sudah banyak yang sukses di sini. Karena itu, kami ingin terus terlibat dan memberikan sumbangsih bagi daerah ini,” ujarnya.
Madroni menegaskan, masyarakat Madura telah menjadi bagian dari kehidupan sosial Sumbawa. Sumbawa bukan sekadar tempat mencari penghidupan, melainkan tanah tempat mereka menggantungkan harapan dan membangun masa depan.
“Tumpah darah kami adalah Sumbawa. Di sini kami mencari karunia Allah,” katanya.
Sebagai tuan rumah, keluarga besar Madura juga memperkenalkan kekayaan kulinernya, mulai dari soto ayam, soto kambing hingga tape khas Madura. Sajian tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada masyarakat Sumbawa sekaligus sarana mempererat hubungan antaretnis.
Persatuan Tidak Cukup Berhenti pada Narasi
Ketua Pajatu Adat LATS, Dr. Muhammad Iksan Safitri, menyebut Kalanis kali ini terasa istimewa karena dihadiri para tokoh lintas etnis se-Kabupaten Sumbawa.
Menurutnya, semangat Takit Ko Nene Kangila Boat Lenge memiliki nilai universal yang sejalan dengan prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Nilai tersebut menekankan pentingnya menghormati adat, menjaga etika, serta membangun kehidupan bersama di tengah perbedaan.
Iksan menegaskan, masyarakat dari berbagai latar belakang etnis telah hidup berdampingan di Sumbawa selama berabad-abad. Karena itu, identitas ke-Sumbawa-an tidak semestinya dibatasi oleh asal-usul keturunan.
Ia mencontohkan kehidupan pemerintahan daerah yang diisi oleh orang-orang dengan latar belakang berbeda. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa Sumbawa memiliki ruang sosial yang terbuka bagi semua kelompok masyarakat.
“Tidak ada warga tertentu yang memiliki hak istimewa. Semua memiliki hak yang sama. Siapa pun yang menjadi bagian dari Sumbawa, baik yang berada di dalam maupun di luar daerah, harus mendapat perlindungan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa persatuan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan atau narasi. Dialog lintas etnis, kata dia, menjadi salah satu langkah untuk memperkuat hubungan sosial sekaligus mengantisipasi potensi konflik yang berkaitan dengan persoalan adat dan perbedaan budaya.
“Kita jangan abai. Belum tentu di luar kita selalu solid. Karena itu, kita harus memiliki komitmen kuat yang diwujudkan dalam aksi, bukan hanya narasi,” ujarnya.
Iksan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga keberagaman sebagai modal sosial yang berharga bagi Sumbawa.
“Boleh berbeda, tetapi tetap solid dalam keberagaman. Persatuan tidak berarti meniadakan perbedaan. Semua tetap berada dalam nuansa ke-Sumbawa-an,” katanya.
Si’iran Madura dan Pasatotang Samawa
Selain menjadi ruang dialog, Kalanis juga menghadirkan pertukaran pengetahuan mengenai adat dan budaya masing-masing etnis. Pada pelaksanaan kali ini, keluarga besar Madura memperkenalkan tradisi Si’iran atau Syairan, yang berisi kisah mengenai keadaan dan siksaan manusia di neraka sebagai pengingat agar manusia senantiasa menjaga perilaku dan mengingat Sang Pencipta.
Tradisi tersebut mendapat tanggapan dari Pajatu Adat LATS. Iksan menjelaskan, masyarakat Samawa juga mengenal tradisi yang memiliki fungsi serupa, yakni memberikan nasihat dan pengingat moral kepada masyarakat.
Tradisi itu antara lain dikenal melalui Pasatotang, Baca Pamuji, dan Baca Buhari. Dalam budaya Samawa, terdapat pula tradisi Badede yang memuat pesan dan nasihat bagi kehidupan masyarakat.
Pertemuan budaya tersebut memperlihatkan adanya nilai-nilai yang saling beririsan di antara kelompok etnis, terutama dalam penghormatan terhadap Tuhan, pembentukan akhlak, serta penyampaian pesan moral kepada generasi berikutnya.
Kalanis sendiri telah dilaksanakan di sejumlah lokasi berbeda. Kegiatan pertama berlangsung di Arung Jonga Cafe, kemudian di Bala Puti, Gedung Rukun Warga Jawa, dan Aula Dinas Pendidikan Sumbawa. Pada pelaksanaan kelima ini, keluarga besar Madura bertindak sebagai tuan rumah.
Melalui Kalanis, HIKMA, FKLE, dan LATS berharap hubungan antaretnis di Kabupaten Sumbawa semakin kuat. Keberagaman adat, tradisi, dan budaya diharapkan tidak menjadi sekat, melainkan kekuatan bersama untuk menjaga kerukunan dan merawat identitas ke-Sumbawa-an. (MK)


























































































