Liputansumbawa.id–Langkah kaki terasa semakin berat saat jalur setapak mulai menanjak di tengah hutan pedalaman Lunyuk. Motor sudah lama ditinggalkan di wilayah Jamu, tepat di ujung jalan terakhir yang masih bisa dilalui kendaraan. Setelah itu, perjalanan hanya bisa diteruskan dengan berjalan kaki.
Kurang lebih tiga jam perjalanan ditempuh melewati semak liar, bebatuan, dan tanjakan tanah yang sesekali licin. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada keramaian. Hanya desir angin, bunyi ranting yang terinjak, dan suara napas yang perlahan mulai memburu.
Semakin jauh masuk ke pedalaman, suasana terasa semakin sunyi.
Di antara kepungan bukit hijau dan pepohonan liar itulah Tampar Urung berada. Hamparan batu putih itu muncul tiba-tiba di tengah perjalanan, terbuka luas seperti halaman raksasa di tengah hutan. Permukaannya keras dan pucat, memantulkan cahaya matahari hingga terasa menyilaukan di beberapa bagian. Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti dasar laut yang kehilangan airnya sejak ribuan tahun lalu.
Angin bergerak pelan melewati permukaan batu yang luas. Tidak banyak suara terdengar selain gesekan dedaunan dari arah bukit. Suasana di tempat itu terasa tenang, tetapi sekaligus menghadirkan kesan asing yang sulit dijelaskan.
Tampar Urung berdiri sunyi di tengah pelukan tiga gunung kembar yang oleh masyarakat sekitar disebut Gunung Tiga Dara. Ketiga gunung itu tampak mengitari kawasan tersebut seperti penjaga alam yang diam sejak lama. Bentuknya hampir serupa satu sama lain, menjadikan pemandangan di tempat itu terasa berbeda dari wilayah lain di Kecamatan Lunyuk.
Masyarakat Desa Jamu dan Pekasa Loka memiliki cerita lama tentang Tampar Urung. Konon, kawasan itu dulunya hendak menjadi laut. Air disebut pernah datang perlahan dari kejauhan, seolah ingin menenggelamkan seluruh daratan di tengah perbukitan itu.
Namun sebelum semuanya berubah menjadi lautan, air tersebut tiba-tiba berhenti. Laut itu urung datang. Dari cerita itulah nama Tampar Urung dipercaya lahir. Dalam bahasa Samawa, tampar berarti hamparan daratan pantai, sementara urung berarti batal atau tertunda.
Saat berdiri di tengah hamparan putih itu, cerita masyarakat terasa hidup bersama angin yang terus bergerak pelan. Tidak ada bangunan besar, tidak ada hiruk pikuk manusia. Hanya bentangan alam luas, bukit hijau yang mengelilingi, dan langit yang terasa begitu dekat di atas kepala.
Perjalanan panjang menuju Tampar Urung perlahan membuat tempat itu terasa lebih dari sekadar lokasi di pedalaman Lunyuk. Ia seperti ruang sunyi yang menyimpan cerita lama, tentang alam, tentang waktu, dan tentang laut yang konon tak pernah benar-benar sampai. (LS)



























































































