Liputansumbawa.id, Sumbawa Barat – Pakaian adat Nusantara, barapan kebo, wayang, hingga tabuhan gendang beleq mewarnai Karnaval Budaya 2026 dalam rangka Hari Lahir ke-23 Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Selama empat hari, 19–22 Oktober 2026, kawasan Kemutar Telu Center (KTC) hingga sejumlah ruas Kota Taliwang menjadi ruang bagi pelajar dan masyarakat untuk menampilkan kekayaan budaya sekaligus mengenalkan tradisi kepada generasi muda.
Karnaval yang mengusung tema “Lestarikan Budaya, Perkuat Jati Diri, Wujudkan Sumbawa Barat Maju Luar Biasa” ini melibatkan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga kategori umum.
Bukan sekadar parade kostum dan pertunjukan, kegiatan ini menjadi cara menyenangkan untuk mengenalkan budaya kepada anak-anak dan remaja. Mereka tidak hanya melihat tradisi, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenakan pakaian adat, berkreasi, dan tampil di hadapan masyarakat.
Hari Pertama: Anak-anak TK/RA Kenalkan Ragam Pakaian Adat
Karnaval Budaya 2026 resmi dibuka Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, didampingi Wakil Bupati Hj. Hanipah, pada Senin (19/10/2026). Pembukaan ditandai dengan pelepasan peserta pertama dari kategori TK/RA yang tampil mengenakan beragam pakaian adat Nusantara.
Penampilan anak-anak menjadi pembuka rangkaian karnaval sekaligus mengingatkan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat ditanamkan sejak usia dini. Melalui pakaian adat yang mereka kenakan, anak-anak diperkenalkan pada keberagaman tradisi yang menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia.
Bupati Amar mengapresiasi antusiasme masyarakat yang turut menyemarakkan kegiatan tersebut. Keterlibatan anak-anak, pelajar, dan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai tradisi agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Hari Kedua: Kreativitas Siswa SD/MI Warnai Karnaval
Pada Selasa (20/10/2026), giliran peserta dari jenjang SD/MI sederajat se-Kabupaten Sumbawa Barat yang meramaikan karnaval.
Beragam kostum dan kreasi budaya ditampilkan oleh para peserta. Dengan dukungan guru dan lingkungan sekolah, anak-anak mendapat ruang untuk mengenal kekayaan budaya sekaligus belajar berani tampil di depan umum.
Keterlibatan siswa sekolah dasar juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas. Kegiatan seperti karnaval memberi pengalaman langsung bagi anak-anak untuk mengenal tradisi dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan.
Hari Ketiga: Pelajar SMP/MTs Tampilkan Ekspresi Budaya
Memasuki hari ketiga, Rabu (21/10/2026), peserta dari jenjang SMP/MTs sederajat mengambil bagian dalam Karnaval Budaya di kawasan Kemutar Telu Center (KTC).
Bupati Amar Nurmansyah bersama Wakil Bupati Hj. Hanipah turut melepas peserta di garis start. Para pelajar kemudian menampilkan kreativitas dan ekspresi budaya masing-masing di hadapan masyarakat yang menyaksikan.
Pada usia remaja, pengenalan budaya menjadi penting untuk membantu generasi muda memahami asal-usul dan jati diri mereka. Melalui kegiatan ini, pelajar tidak hanya diajak mencintai budaya daerah, tetapi juga belajar menghargai keberagaman tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Hari Keempat: Barapan Kebo, Wayang, hingga Turis Ikut Main Gendang Beleq
Hari terakhir Karnaval Budaya pada Kamis (22/10/2026) menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian. Peserta dari jenjang SMA/SMK/MA sederajat dan kategori umum menampilkan beragam kreativitas budaya yang melibatkan lebih banyak unsur masyarakat.
Barisan karnaval menghadirkan berbagai atraksi, mulai dari barapan kebo dan wayang hingga penampilan yang merepresentasikan beragam suku dan etnis. Ragam pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk pakaian adat, tetapi juga melalui kesenian, tradisi, dan kehidupan masyarakat.
Kemeriahan semakin terasa ketika sejumlah turis turut bergabung dalam arak-arakan. Mereka tidak hanya menyaksikan jalannya karnaval, tetapi juga mencoba memainkan gendang beleq, salah satu kesenian musik tradisional yang identik dengan masyarakat Sasak di Pulau Lombok.
Kehadiran para turis menambah warna tersendiri dalam perayaan tersebut. Tradisi yang biasanya dikenal melalui pertunjukan seni menjadi pengalaman langsung yang dapat dinikmati dan dicoba oleh pengunjung.
Di penghujung barisan, Bupati Amar Nurmansyah bersama Wakil Bupati Hj. Hanipah dan jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) turut mengikuti pawai mengelilingi Kota Taliwang. Mereka menyapa warga yang antusias menyaksikan rangkaian karnaval hingga hari terakhir.
Menjaga Tradisi, Mengenalkan Budaya kepada Generasi Berikutnya
Empat hari pelaksanaan Karnaval Budaya 2026 memperlihatkan beragam cara masyarakat mengenalkan dan merawat warisan budaya. Anak-anak TK/RA mulai mengenal pakaian adat, pelajar SD/MI dan SMP/MTs belajar mengekspresikan kreativitas, sementara peserta SMA/SMK/MA dan kategori umum menghadirkan pertunjukan yang lebih beragam.
Keterlibatan masyarakat, pelajar, pemerintah daerah, pelaku UMKM, hingga turis menjadi gambaran bahwa budaya dapat menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan.
Lebih dari sekadar memeriahkan Hari Lahir ke-23 Kabupaten Sumbawa Barat, karnaval ini membawa pesan bahwa tradisi perlu terus diperkenalkan agar tidak hanya dikenal oleh generasi tua, tetapi juga tumbuh menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.(LS)
C/Prokopim Sumbawa Barat


























































































