Single News

Hadiri Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa, Wabup Sumbawa: Nilai Tau Samawa Harus Jadi Kompas Masa Depan

Liputansumbawa.id – Kemajuan pembangunan dinilai tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan. Pemerintah Kabupaten Sumbawa menilai penguatan karakter dan jati diri masyarakat harus berjalan beriringan agar pembangunan tidak membuat generasi mendatang kehilangan akar budayanya.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mohamad Ansori, saat menghadiri Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa di Pondok Pesantren Dea Malela, Lenangguar, Jumat (25/9/2026).

Menurut Wabup, forum tersebut bukan sekadar menjadi ruang silaturahmi para tokoh, tetapi juga momentum untuk menyatukan gagasan tentang Sumbawa yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Yang kita pikirkan bukan hanya Sumbawa hari ini, tetapi Sumbawa seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Ansori.

Ia menegaskan, nilai-nilai Tau Samawa tidak cukup hanya dibicarakan atau dituangkan dalam dokumen. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, menurutnya, pembangunan daerah perlu berjalan seiring dengan penguatan karakter dan jati diri masyarakat Sumbawa.

Wabup menyebut sejumlah indikator menunjukkan Sumbawa terus mengalami perkembangan. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,12 persen, tingkat kemiskinan turun menjadi 11,79 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka berada di angka 2,60 persen.

Namun, ia mengingatkan bahwa capaian pembangunan tidak semata-mata berbicara tentang angka pertumbuhan ekonomi.

“Pembangunan bukan hanya tentang seberapa besar ekonomi tumbuh, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang tumbuh. Kita harus tetap tahu dari mana kita berasal. Taket ko nene, kangila boat lenge harus tetap menjadi kompas,” katanya.

Menurut Ansori, prinsip tersebut penting agar masyarakat Sumbawa tetap memiliki pijakan dalam menghadapi perubahan zaman. Kemajuan tidak berarti harus meninggalkan nilai-nilai yang telah diwariskan para leluhur.

Ia berharap Silatulfikri 99 Tokoh Tana Samawa dapat menjadi ruang untuk menggali kembali nilai-nilai masa lalu sekaligus melihat relevansinya dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Tidak semua yang baru harus diterima. Kita membutuhkan filter. Karena itu, mari bertanya, nilai apa dari masa lalu yang masih relevan untuk menghadapi masa depan,” tegasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A., Rektor Universitas Samawa Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd., Ustadz H. Yadi Surya Diputra, S.Sos., M.A. atau Ustadz Suryo, serta sejumlah tokoh Tana Samawa.

Silatulfikri tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi dan pertukaran gagasan bagi para tokoh dalam merumuskan nilai-nilai yang dapat menjadi pijakan pembangunan Sumbawa, sekaligus menjaga jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.

C/Fb: Kominfotiksandi Pemkab Sumbawa