Liputansumbawa.id–Malam di kawasan Kubur Belanda, RT 2 RW 4 Kelurahan Pekat, Kecamatan Sumbawa, Sabtu (29/8/2026), terasa berbeda. Kawasan yang selama ini identik dengan jejak masa lalu itu berubah menjadi ruang ekspresi budaya dalam Pentas Gebyar Merah Putih Tahun 2026.
Di antara makam-makam tua yang telah ada sejak puluhan tahun silam, berbagai kesenian tradisional Sumbawa ditampilkan. Ngumang, Gong Genang, Balawas, Bagonteng, Bagenang, pembacaan puisi hingga teater kontemporer menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.


Penampilan kolosal Sanggar Seni Sangalang turut menyemarakkan suasana. Tidak hanya itu, medley dari Komunitas Tuter Karang yang melibatkan ibu-ibu dan remaja Karang Pekat juga menjadi warna tersendiri dalam pentas budaya tersebut.
Bukan sekadar hiburan, kegiatan ini menjadi wujud komitmen masyarakat dalam merawat dan menjaga budaya bangsa, khususnya budaya Sumbawa. Budaya ditempatkan sebagai salah satu pilar penting untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.
Ketua Panitia, Lalu Holidi, mengatakan Pentas Gebyar Merah Putih digelar untuk menyemarakkan peringatan HUT Kemerdekaan RI sekaligus menjadi gebrakan baru bagi Pokdarwis Kubur Belanda dalam menata kawasan tersebut.
Menurutnya, kawasan Kubur Belanda memiliki potensi sejarah yang selama ini belum sepenuhnya dikembangkan.
Di lokasi tersebut terdapat sekitar 30 makam, sementara 15 makam di antaranya telah terdata dengan baik. Keberadaan kompleks makam tersebut tercatat telah ada sejak tahun 1919.
Harapannya, kawasan Kubur Belanda ke depan tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga dapat ditata menjadi ruang publik yang nyaman serta kawasan wisata yang menarik bagi masyarakat Kelurahan Pekat dan sekitarnya.
Keunikan perayaan kemerdekaan di kawasan Kubur Belanda menjadi salah satu pesan kuat dari kegiatan tersebut. Masa lalu yang pernah menghadirkan luka sejarah tidak lagi semata dipandang sebagai sesuatu yang harus dilupakan.
Sebaliknya, jejak sejarah itu coba dimaknai sebagai bagian dari perjalanan panjang yang dapat diolah menjadi potensi baru.
Merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di kawasan yang lekat dengan nama Belanda menjadi simbol tersendiri. Sejarah telah berlalu, sementara generasi hari ini mencoba menjadikannya sebagai ruang belajar, identitas, sekaligus daya tarik.
Tidak banyak kawasan di Sumbawa yang memiliki kompleks sejarah seperti Kubur Belanda. Karena itu, potensi tersebut dinilai perlu dikemas dengan baik agar memiliki nilai budaya dan ekonomi tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
Nantinya akan dicari format yang tepat untuk mengembangkan keunikan kawasan tersebut. Tujuannya agar potensi sejarah dan budaya yang ada dapat dikelola secara baik dan memiliki daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan.
Kelurahan Pekat sendiri memiliki sejumlah jejak sejarah dan budaya lainnya. Selain kawasan Kubur Belanda, terdapat pula Bala Datu Ranga dan Istana Dalam Loka yang menjadi bagian dari kekayaan sejarah di wilayah tersebut.
Pentas Gebyar Merah Putih pun menjadi lebih dari sekadar panggung perayaan kemerdekaan. Di tempat yang menyimpan jejak masa lalu, masyarakat Pekat mencoba menatap masa depan.
Lewat tabuhan Gong Genang, lantunan Balawas, gerak tari dan pertunjukan teater, sejarah dan budaya seakan bertemu dalam satu panggung.
Dari kawasan makam tua, sebuah gagasan baru tumbuh: bahwa sejarah tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu. Dengan pengelolaan yang tepat, sejarah dapat menjadi kekuatan untuk membangun ruang publik, merawat identitas, menghidupkan kebudayaan, sekaligus membuka peluang baru bagi pariwisata Sumbawa. (Mk)


























































































